Hari Baru

Bulan dan matahari mulai berbisik bergantian. Ada rahasia yang ingin mereka sematkan. Kepada matahari, bulan berkata bahwa dia ingin menghidupi pagi. Kepada bulan, matahari berujar bahwa inginnya dia menghidupi malam.

Pada akhirnya bulan dan matahari memutuskan bahwa; tidak apa dunia hancur jika itu berarti mereka bisa bersatu. Dalam sebuah hari yang baru, dimana pagi dan malam menjadi satu. Tidak terpisah, tidak terlepas, melebur dalam ada dan tiada.

Advertisements

Semuanya sudah terjawab

“Aku matahari, dan kamu bulan.”

“Iya, betul juga. Aku bulan.”

“Aku matahari, tapi aku mencintai malam.”

“…..”

“Apa yang kamu cintai?”

“Aku bulan, tapi aku mencintai pagi.”

“Tandanya kamu cinta sama aku?”

Lalu dia menatap bola matanya dengan amat dalam, mencium keningnya dengan lembut dan memeluknya seakan tidak ingin melepasnya.

Surat dari Sahabat

“Sengaja baru ucapin. Supaya lo bisa lebih merefleksikan diri.

Supaya lo bisa melihat begitu banyaknya orang diluar sana yang menyayangi lo, yang mengagumi lo dari segala sisi, baik kepribadian, kebaikan, ketulusan, dan semua prestasi lo. Supaya lo tau bukan hanya gue yang melihat itu semua, tapi banyak orang.

Semoga lo juga bisa melihat apa yang gue dan banyak orang liat tentang diri lo.

Buka mata lebar-lebar. Buka hati, buka telinga.

Agar bisa melihat lebih banyak hal, merasakan lebih banyak hal, mendengar lebih banyak hal, supaya bisa menyadari bahwa begitu banyak hal yang bisa lo syukuri diluar sana.

Semoga setiap mengambil keputusan, setiap bersedih, setiap berada di titik terendah, suara hati lo masih tetap terdengar.

Agar bisa lebih memahami diri sendiri. Karena kalau bukan lo yang paling memahami diri lo sendiri dan mencintai diri lo sendiri, siapa lagi?

Jangan biarkan kelamnya dunia ini menutupi apa yang sudah lo pupuk sejak kecil.

Jangan terlalu banyak berharap pada manusia. Sama seperti kata lo, manusia pasti mengecewakan.

Jaga ideologi. Tanpa ideologi, lo akan tenggelam dalam kebingungan; kebingungan menentukan arah, menentukan jalan mana yang selanjutnya akan diambil.

Setiap orang punya mulut dan kebebasan untuk berbicara, tapi tidak semua orang memiliki telinga dan hati yang bisa mendengar keluh kesah orang-orang terdekatnya. Tetaplah menjadi orang yang rendah hati, yang siap mendengar keluh kesah orang-orang terdekat, yang unik.

You’re one of a kind. Keep being you. I’m always sending my prayers to you. Semoga diberikan jalan yang lurus menuju apa yang dicita-cita kan.

Hidup tidak akan menunggu untuk apapun, waktu terus berjalan, begitupun lo. Apapun yang terjadi, harus terus melangkah maju.

// Di usia ke dua puluh satu.

Segerakan

“Kamu: Pemikir sekaligus perasa yang unggul.”

Ingin lebih mengenal, agar bisa bertukar cerita. Bertukar kehidupan dan rasa.

Ingin mempelajarimu. Mengobrak abrik isi kepalamu. Memahami misteri senyapmu. Mengeja luka dan senandika mu. Bernafas mengikuti tenangmu. Lalu menemukan kekuatan yang mengejutkan.

Kita bisa cerita atau main tebak-tebakan. Bisa juga main di ranjang. Kamu bisa lihat biji mataku. Kamu bisa intip isi hidupku. Kamu bisa eja luka dan senandika ku. Kita bertukar dan berbicara melaluinya.

Supaya bisa kita menikmati waktu berdua, kita harus apa?

Aku tunggu kamu menyapa.

night prayer

the thing that keeps me wonder
always leaving traces of itself
along the road where it bleeds
among the trees where it lives

only time knows the secret
about you and the unspoken of everything
in the dark, to the night
between you and the moon, the angels sing for you

hear the voices of the holy
out of this realm
those voices enter your being like a prayer
singing you the footsteps of the gods

all those lives and all those loss
the longing for the things that end
even when they haven’t started yet
for the chances that missed
even when you haven’t hit it yet
for the love that must remain in the shadow
even when tomorrow we may be dead

for only time will hold our secrets
about the unspoken and the unspeakable things

i may not belong with the angels and the gods
but you are

i hope you will always find your way.

Mampus!

Namun, hidup memang tidak pernah mudah.

Perasaan dan adaptasi omong kosong yang harus dilalui, seolah-olah harus menerima kenyataan dan harus membiasakan hidup, dengan semua kesiasiaan dan rahasianya, tanpa seseorang yang sebelumnya sudah ada dalam beragam momentum kehidupan.

Mengapa manusia harus selalu berpura-pura? Berpura-pura kita bisa hidup tanpa seseorang, berpura-pura kita sudah baik-baik saja semenjak kepergiannya, karena kalau kita tidak baik-baik saja, maka kita akan dipertanyakan.

“Apakah kamu baik-baik saja? Mengapa kamu tidak baik-baik saja? Ini sudah cukup lama sejak kejadian itu terjadi? Mengapa kamu masih tidak baik-baik saja?”

“Apa kamu perlu dibawa ke dokter jiwa?”

Setelahnya, mengubur diri rapat-rapat. Mengunci diri dalam realita yang berpura-pura.

Sebuah perenungan muncul ketika kamu ada, dan mungkin menemani, diri yang waktu itu sedang berduka. Kamu ada dalam ketiadaanmu. Atau mungkin diri yang terlalu membesarkan belas kasihanmu, yang bukan apa-apa, sebagai sebuah ada yang nyata. Kamu nampak ada, namun kamu tidak ada. Ketulusan (kebodohan) menuntun diri untuk kembali percaya bahwa perasaan itu harus diperjuangkan. Bagaimana diri tidak boleh menyerah akan kamu dan akan perasaan. Seakan ada keinginan semu, secara tidak sadar, ingin kamu menjadi percaya akan hal-hal yang diri percayai tentang kamu. Bagaimana kamu jauh lebih baik dari apa yang kamu pikir kamu adalah. Bagaimana diri menaruh harapan dan keyakinan akan kamu sebagai seorang manusia yang utuh, bercacat namun indah. Besarnya kasih dibalut pelan-pelan dalam air mata dan perasaan yang tidak pernah, dan tidak akan pernah, diucapkan, kepada kamu, yang tidak tahu menahu, cacat dan terkadang jahat, namun baik dan apa adanya. Tidak ada alasan untuk menaruh kasih ini kedalammu. Jika memang pada saat itu harus seperti itu, maka terjadilah.

Tarik nafas.

Semakin waktu berjalan, semakin patah dan hancur di tengah jalan. Bukan hanya soal hati namun hidup seakan begitu jahat kepada manusia yang merasa tidak tahu-menahu.

Memangnya kita ini siapa? Sampai-sampai hidup menaruh beban yang begitu berat ini di pundak? Memangnya kita sanggup? Memangnya hidup pernah bertanya?

“Hai iya kamu sanggup kan ya saya kasih ini?”

“Ah iya kamu mah sanggup saya tahu kamu kuat maka sudah ya nih coba dulu dibawa beberapa waktu, sanggup kok. Nanti kita lihat ya hasilnya beberapa bulan lagi. Pasti sanggup deh. Pasti jadi lebih kuat dan terbentuk?”

Somplak.

Pernah ada konsensus seperti itu? Tidak.

Monolog kehidupan kepada sang penonton yang hanya bengong, tutup mulut dan hilang dalam sekejap. Tak ada kesempatan untuk memberi jawaban. Kesadaran hidup berlalu dalam detik yang lebih cepat dari hitungan detik manusia (jangan-jangan dalam hal waktupun hidup berani-beraninya bermain curang? Tidak konsensus lagi? Awas saja.)

Gemar manusia berujar; bagaimana waktu adalah permainan menjebak. Di dalamnya, kita tenggelam. Mencoba meraih permukaan namun cahaya terlalu jauh. Belum pernah sampai. Ditelan dalamnya air yang tak ada habisnya. Gelap dan luas, tidak bisa melihat apapun. Semakin kebawah, semakin gelap, tercekik dan tanpa nafas.

Waktu berjalan begitu lambat, dengan amat cepat.

Mencoba mengisi waktu dengan distraksi dan hal-hal yang dianggap penting. Konyolnya, lubang ini tidak juga tertutupi. Merasa seakan-akan mempunyai kesedihan dan kekosongan. Tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadapnya, atau terhadap diri. Pada waktu itu, hidup begitu kejam. Jangan tanya kenapa. Karena pasti kita tidak akan bisa menjawab. Tidak ada jawaban untuk semua ini. Yang ada hanya kita dan apa yang terjadi di dalam tubuh dan jiwa kita ini.

Hidup untuk Mati

Semoga saya bisa semakin melihat, menyadari dan sepakat jiwa raga, bahwa;

Hidup tidak sesempit orang-orang yang datang lalu pergi dan yang bukan untuk kita.

Tidak sesempit ekspektasi terlalu ngimpi yang tidak terrealisasi.

Tidak sesempit segala apapun yang memang belum dan masih harus ditunggu.

Tidak sesempit kehilangan dan kesedihan yang sedang dirasakan.

Tidak sesempit lautan dan tidak sesempit musim yang suram.

Bahwa hidup lebih dari yang kita pikir hidup adalah.

Lebih dari semua hal yang dirasa butuh atau inginkan.

Lebih dari segala peristiwa hidup yang sudah dan akan terjadi dalam hidup kita.

Lebih dari semua yang bisa kita pahami, tidak bisa kita pahami dan akan terus menjadi pertanyaan.

Lebih dari hati yang patah, air mata yang jatuh dan tubuh yang telentang.

Semoga saya bisa hidup untuk mati, bukan hidup untuk hidup.