when the world is quite

Lord, the days are hard and the world is quite.

I don’t always understand Your plans for me. Sometimes I doubt it. Sometimes I almost feel like giving up, because it’s hard, it’s tough, and I feel like I can’t do it anymore. It is out of my strength, out of my capability. But even on my darkest days, even when I don’t seem to know Your plan for me, You never left. I hope I will be stronger enough to let Your plans be done to me in my life.

Please give me the hope and strength that I need to continue my life according to Your plans for me. Please give me the hope and strength that I need to keep living, loving and never gives up even when the world is dark and quiet, even when people that I love turn their backs on me and disappoint me,  even when I feel like I don’t have any worth anymore, even when I’m wrong, even when everything is wrong, even when, even when.

Though times when I almost lose my sanity. Times when I just want to leave and never comes back. Times when I don’t know anything anymore. Times in life.

Even when the world is quiet, I hear Your voice. It’s calling me to write this. It’s calling me even when I don’t hear it.

Please always speak to me, Lord.

I am nothing without You.

Advertisements

Jika bukan karena Tuhan Yesus, mungkin sedari dulu sudah menyerah.

My only hope, my only strength. The one who always stays no matter what I do, no matter what happens. My Saviour. My only one.

Mungkin pada akhirnya ini semua memang salahku.
Mengapa perasaan bahagia itu hanya tinggal sekejap mata.
Mengapa kesedihan dan kekosongan ini selalu datang begitu rutinya.
Mungkin pada akhirnya ini semua memang salahku.

Aku hanya ingin pergi dan meninggalkan semua ini.
Jika memang tidak ada lagi yang tersisa dari diri ini untuk dapat dicintai dan diperjuangkan, layak dan berharga, maka tak ada lagi harganya diri ini untuk dapat tetap berada disini.
Maka pergilah, pergilah yang jauh, sampai sekelilingmu tak bisa lagi menemuimu.
Kaburlah dan bersembunyilah, tinggalkanlah semua beban dan penyiksaan ini.
Bersatulah dengan dia yang tak pernah bisa ditemukan di bumi.
Pergilah selama-lamanya, dan jangan pernah kembali lagi.

Semoga bahagia dan tenang di rumah.

Nowhere but Here

Last night I had a dream. On that dream, I was in a bus, sitting by the window. I think I was asleep. Suddenly, a light that is so bright from the sun woke me up and I was in a state of confusion. The color was so different. And by color, I mean the whole color of that moment. Everything around me looks different and vivid. I could see the colors of the air, the colors of people’s breath, the colors of their secrets and emotions. The moment looks brown and everything was sepia. There was no color such as pink, blue, green, red or purple. It was brown, with all its shades.

I was pretty sure I was in a dream. I was conscious but I didn’t wish to wake up. I sat alone and I looked upon the bus, there were only 5 people there; the bus driver, and old lady knitted a scarf, a drunk grumpy man on the backseat, a little boy with a brown hair, and me. I didn’t know where we going, perhaps the other people don’t know where they going either. I just let the bus take me. I was lost in the moment, because for a second, I felt a very light tenderness born inside me, something very light and small, telling me that I don’t have to run anymore, I don’t need to rush, because life is not going anywhere, and from now on I may become a being that is free from the ephemeral confusion of the world. I am no longer what I used to be. I am no longer my previous life.

 

“Why are you running? What’s the rush? Life is not going anywhere. You will always find life greeting you at the end of every escape. It is no use. There are no other places but here.”

Kecil

Terkadang ingin menyadarkan diri sendiri bahwa aku adalah kecil dan bukan apa-apa.

“Saya ingin menjadi kecil dan bukan apa-apa. Menjadi sederhana. Hidup tanpa harus berlari. Hanya hidup, untuk hidup, sampai pada habisnya.”

“Ada kala aku ada, ada kala aku tiada. Aku bukan segala-gala. Aku bukan siapa-siapa.”

Jika memang begitu, apa masih perlu bagiku untuk berlari atau takut ketinggalan kereta? Mengapa hidup harus berlari? Memangnya apa yang aku kejar?

Maka andai nanti saya lupa, andai nanti saya merasa kurang, andai nanti saya merasa tertinggal, semoga saya sadar, bahwa untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Semoga berpengharapan. Semoga tidak berekspektasi.

Samudara

Aku benar bertatapan dengan kedua biji matamu, Sam.
Tetapi ketika aku melihat kedalamnya, yang ada hanyalah seonggok daging dan kelalaian, akan kedaginganmu sebagai seorang manusia.

Biarkan aku pergi dari sini, Sam. Untuk apa kau terus menahanku disini? Aku pun tidak lebih baik darimu. Aku hanyalah seonggok daging yang terperangkap dalam lemah dan kesia-siaan.

Maka bakarlah aku, Sam. Biarlah abuku menyala-nyala dan asapku membuat perutmu kenyang. Sekali aku dapati kau menangis, minumlah air itu untuk menyeka hidangan penutupmu.

Jiwamu telah kau matikan sejak lama, Sam. Malam itu hujan dan dingin, oh, aku masih ingat. Ketika kau menjual jiwamu kepada dunia dan kau tinggalkan segala roh dan rahasiamu.

Dermaga mu telah bercahaya, tak bisa kah kau lihat? Disitu, tepat 30 derajat ke utara dari tempatmu berdiri, kamu benar bertatapan dengan biji mataku, Sam.

Bangunlah, dan biarkan aku pergi.

 

Jakarta, 3 Mei 2018

Hakiki dan Tak Berarti

Terkadang hal ini betul menimbulkan pertanyaan dalam benak saya
Akan hal-hal yang tak terucapkan dan tak terpikirkan
Kerap hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak pijak tanah
Jika dunia ini adalah sebuah kenyataan, maka berkelana lah saya kepada apa yang tidak nyata
Kemana-mana mengaburkan diri, sampai pandangan kabur dari ada dan realita
Sampai di sebuah negeri saya berhenti
Membangun rumah untuk tinggal meski hanya sementara
Disana saya berpulang namun kata orang
Berlari saja tak kan pernah berakhir dimana-mana
Dari situ saya kembali berangkat
Pergi untuk tidak kembali dan terus berulang
Dari padang rumput pasir sampai berakhirnya padang dalam ketiadaannya
Saya terus membangun rumah di setiap perhentiannya
Betul saya betul merindukan rumah, sungguh
Ingin jiwa pulang ke rumah, menemukan rumah, berpulang ke rumah
Namun apa itu rumah saya pun tidak tahu
Atau mungkin saya tahu namun tak mampu untuk menjabarkannya dengan bahasa dunia ini
Kemana saya harus berpulang, arah, derajat, semua mungkin memang hanya ilusi eksistensi semata
Apakah kamu rumah saya?
Apakah kamu rumah saya?
Apakah kamu rumah saya?
Kata orang tidak akan pernah tahu jika tidak mencoba.
Coba coba sampai jadi namun memang matahari harus berbagi rasa dengan bulan
Karena matahari mengetahui siapa diri kita namun bulan mengetahui rahasia diri kita
Bisikannya padaku malam itu, mungkin tidak ada yang perlu tahu
Lalu mengapa aku menuliskan semua ini pun aku tidak tahu
Bahkan ketika saya telah menemukan rumahnya rupanya aku masih berkelana di dunia yang mungkin sama
Bahagia diri memasuki dan menjadi satu dengan rumah
Karena semua orang sudah kembali kerumahnya masing-masing
Jika diri ini menemukan rumahnya suatu hari nanti
Maka pulanglah aku dan jangan
Jangan, kembali lagi.