Calla Lily

Untuk Pepito,

Apabila kau membaca surat ini, aku bersyukur karena Tuhan masih memberikanmu hidup. Entah dimana kau berada sekarang. Mungkin diatas kapal, atau dalam kereta menuju Kota Pasi. Aku tidak tahu. Namun ku harap, kau hidup, Pepito. Karena perjuanganmu belum selesai.

Kau tahu, Pepito. Kemana pun kau berlari, dia akan selalu mengejarmu. Kau sendiri—namun kau tak pernah sendiri. Menyadari dan hidup dengan kesadaran akan hal ini, Pepito, merupakan salah satu kesendirian terbesar. Namun kau sudah mengetahuinya, bukan? Kau yang mengajarkan hal ini kepadaku sejak kita masih kecil.

Tak sanggup bila harus membayangkan kaki kecilmu berlari dari satu tempat ke tempat lain. Mungkin memang tidak ada lagi kemenangan bagi orang seperti kita. Apa yang mau kau lakukan? Berteriak dan menyerukan semua serapah kepada mereka? Membongkar rahasia pemberontakan di tengah pusat kota? Membiarkan dirimu ditangkap dan disiksa agar mati sebagai martir?

Entahlah, Pepito. Aku tidak tahu. Aku tak pernah mengerti dengan cara berpikirmu. Caramu memperjuangkan hidup… Meski kau juga tak pernah mengerti caraku, bukan? Semua tulisan ini… Entahlah. Begitu banyak hal yang tidak ku mengerti..

Meski begitu, semua tulisan dan suratku, semua langkah kaki dan debar jantungmu, semua yang terlihat dan yang tersembunyi, adalah sebuah perjuangan. Kita mengucap doa yang sama. Aku tidak mengerti banyak hal, namun satu yang ku tahu pasti; perjuangan adalah milik semua umat.

Maka dimanapun kau berada sekarang, entah masih terasing, tertangkap, atau sudah lepas.. Teruslah hidup, Pepito. Teruslah hidup. Apapun yang akan terjadi ketika nanti matahari tenggelam; perjuangan kita, belum selesai.

Calla Lily..

Tertanda,
J.

Jalan, jangan lari.

Untuk Joanne,

Kita lupa, betapa sederhananya hidup ini. Hal-hal yang kita anggap penting saat ini, hal-hal yang kita kejar, ternyata sungguh tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan ketenangan diri sendiri serta hak diri untuk dapat merasa cukup. Semakin dewasa, dunia semakin berubah, begitu pula dengan diri kita. Kecepatan untuk menempuh jarak dari saat ini menuju kesana menjadi semakin kurang, kurang dan kurang. Tak pernah cukup. Bagaimana bisa aku menempuh garis itu jika kecepatan lariku hanya segini terus? Maka kita berlari. Berpikir bahwa dengan berlari, kita menjadi cukup. Yang tidak kita ketahui adalah, tidak akan ada yang pernah menjadi cukup. Bahkan menjadi cukup pun, tidak akan pernah bisa cukup.

Jika suatu hari nanti kamu bangun, dan kamu melihat bahwa di sekelilingmu, orang-orang berlomba lari menuju pelabuhan itu, berhentilah sejenak, dan lihatlah. Lihatlah ke sekelilingmu. Dari sudut pandang itulah, dari titik tepat dimana kamu berhenti, berdiri, dan membuka mata, kamu akan melihat; betapa capai dan letihnya manusia-manusia itu, bertabrakan dan bertubrukan, meracau satu sama lain, berharap menjadi yang pertama menyentuh pelabuhan. Keringat mereka bercucuran, kaki mereka berdarah, ada yang mati, ada yang habis terinjak. Ada yang tertusuk, ada yang menusuk. Ada yang menangis, ada yang mengais, ada yang menjadi gila. Mereka berjuang mencapai garis akhir, padahal pelabuhan itu hanya seujung pelipis mata mereka.

Di sepanjang jalan yang gelap, payah, berduri dan sepi menuju pelabuhan itu, muncul banyak penanda jalan yang mengatakan; apabila kita tidak melakukan ini, maka kita akan tertinggal, apabila kita tidak mencapai ini, maka kita akan gagal. Kita tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka yang dalam waktu sekian sudah mencapai jarak sekian. Maka kita berlari. Agar menjadi apa-apa. Agar tidak dianggap– menjadi– dinubuatkan gagal. Agar dapat memimpin barisan. Agar dapat menjadi yang terdepan. Agar dapat merasa cukup. Begitu panjang dan letih jalan ini. Ketika kita berlari, apa yang sebetulnya kita kejar?

Berjalanlah, Joanne. Berjalanlah dengan tenang. Bawalah kedamaian itu padamu. Dalam dirimu, teruslah menyala cahaya lilin itu. Ingatlah, pun waktu akan berakhir sebelum sampai kakimu di pelabuhan itu, semua baik-baik saja. Semua tidak apa-apa. Karena merasa cukup adalah sebuah pelabuhan dalam hidup, yang hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang berjalan dengan tenang.

Maka, berjalanlah, Joanne. Jangan lari.

Asap dan Dahaga

Untuk Pepito,

Bahasa-bahasa dari pada tubuhmu
Menguap begitu panas
Bersamaan dengan meluapnya dirimu
Dari keringat yang berselimut desah
Basah dan Lelah
Kau begitu berkeringat, sayang
Garis-garis pembuluh darahmu
Berusaha menembus kulitmu yang coklat kekuningan
Tubuhmu keras
Gagah dan sungguh begitu kuat
Rambutmu yang tipis
Mengapa kau begitu sensitif ketika kepalamu dipegang?
Andaikan kau mengetahui
Bahasa-bahasa kasih ku yang tak terucapkan
Ketika aku menatapmu dengan kedua biji mata ini
Dalam diam
Dari ujung ruangan
Kau menguasai pikiranku, sayang
Aku ingin berlari dan memelukmu sekarang
Bagaimana caranya agar aku bisa memelukmu?
Berenang melewati sunyi
Terasa begitu jauh
Padahal kau duduk disampingku
asap dari cerutumu
asap dari tubuhmu
Bahasa-bahasa ini dan debaran jantungku
Andai saat ini kita sedang berpelukan.

Dua Rumah

Untuk Pepito,

Aku tahu, bahwa kau tidak akan pernah membaca surat-suratku. Semua tulisanku bukanlah apa-apa. Malam ini ku lihat kau membagikan tulisan seseorang untukmu. Baginya, kau adalah kehidupan. Betapa indah dirinya menuliskanmu. Perasaan kalian bersembunyi dibalik tinta hitam, rahasia kalian terbalut dalam apa yang tak akan pernah bisa diucapkan dengan kata-kata. Kalian berjuang untuk menjadi satu meski hanya di dalam sebuah tulisan.

Aku mengerti, Pepito, bahwa kalian berdua adalah sama– meski  hal itu juga yang menjadi alasan terbelenggunya kalian di dua ujung jurang yang berbeda. Begitu jauh jarak jurang itu, pun kalian berusaha memanjangkan tangan untuk meraih, kalian tidak akan pernah bisa menyentuh ujung jari satu sama lain. Pilihannya adalah untuk pergi meninggalkan jurang itu, jatuh ke dalamnya, atau duduk dan membangun rumah di ujung jurang masing-masing, untuk hidup dan menikmati satu sama lain dari kejauhan.

Mungkin kau dan dirinya memilih untuk membangun rumah itu, Pepito. Kalian bangun pagi hari dan membuka jendela, melihat satu sama lain tanpa ada kata yang terucap. Kalian meninggalkan segalanya; kehidupan kalian sebelum ujung jurang itu, hanya untuk menghabiskan hidup dengan menjadi ada bagi satu sama lain. Ternyata ada dan bersatu adalah hal yang begitu berbeda. Tulisannya bagimu malam itu bagaikan kidung yang menenangkan hatimu. Rasanya, aku tidak akan pernah bisa membuatmu merasa seperti itu, Pepito. Mungkin aku tidak akan bisa menandingi perasaanya kepadamu.

Segala apa yang ada dalam diriku, tentangmu, bersembunyi menjadi kata, terbelenggu menjadi bahasa. Yang tidak kau ketahui, Pepito, adalah bahasa-bahasaku yang berjalan ke depan pintu rumahmu. Mengetuk dan menjadi diam, hanya untuk pulang tanpa sekalipun ada yang mendengar. Yang tidak kau ketahui, Pepito, adalah bahasa-bahasaku yang bersembunyi di balik semua tulisanku. Untukmu. Selalu begitu. Yang tidak kau ketahui, Pepito, adalah aku.

Mungkin saat ini kau sedang menikmati susu panas sembari memandang jendela kamarnya, memikirkan apa yang kira-kira sedang dia tulis untukmu. Mungkin saat ini dia sedang menulis untukmu, membayangkanmu, atau sedang tidur dan bermimpi tentangmu. Aku saat ini sedang menulis untukmu. Betapa kau begitu dikasihi, Pepito. Seandainya kami bisa mencintaimu.

 

Pepito,

Baik dia maupun aku,

Kau telah hidup selamanya.

Jonquil

Untuk Pepito,

Malam ini aku mendengar bunyi lonceng kecil berdering dari luar pintu kamarku. Seakan lonceng itu jatuh dari genggaman tangan ibuku, kemudian berguling berputar di atas ubin marmer dingin berwarna putih. Kurus dan nyaring, suara lonceng itu menginap di telinga kiriku. Seakan tak mau pergi, aku masih bisa mendengarnya hingga sekarang.

Suara lonceng dan suara penjual roti, semua mengingatkanku pada dirimu. Terakhir kita bercumbu, kau masih menyukai roti coklat. Aku rasa, tidak ada salahnya bagimu untuk mencicipi rasa makanan yang lain. Pun, aku tahu bahwa kau suka makan, bukan? Seperti waktu kita menginap di Kota Pasi, dalam kamar kecil yang jendelanya langsung menghadap pantai. Kau bersikeras bahwa itu laut. Apalah bedanya, air hanya akan menjadi air.

Pagi hari kita akan bangun bersamaan dengan angin yang meniup horden putih di jendela kita. Bisikan angin menggelitik kulit coklat mudamu, menyadarkan kau bahwa diluar sana penjual bunga sudah membuka tokonya, anak kecil sudah bermain dengan sepedanya, dan jalanan ini sudah ramai dengan langkah kaki dan pikiran kotor setiap kepalanya. Ketika kau menyadari kehidupan yang telah membuka jendela, kau akan memelukku lebih erat tanpa sadar. Setelahnya aku akan terbangun dan membuka mata kepada laut diluar jendela sebagai hal pertama yang aku lihat. Setelah matamu, Pepito. Setelah matamu.

Malam ini aku memutuskan untuk berjalan kaki mengitari pelabuhan. Tak lupa, aku membeli roti coklat di toko Bibi Lucia yang sudah hampir memasukkan kursi terakhirnya. Setelahnya, aku duduk di bangku kayu tua yang masih berdiri tepat di sebrang toko buku tua Paman Sam. Dari sini, aku bisa melihat jendela kamar itu. Masih sama, seperti dulu. Horden putih yang melayang-layang, vas bunga transparan berbentuk jam pasir dengan setangkai Daffodils putih di dalamnya, udara dingin yang membuat pipiku merah, dan suara beratmu yang tak lagi bisa ku dengar.

Hanya suara lonceng jatuh, yang berguling berputar, terus bersautan, meneriakkan doa, mengharap kau pulang.

Malam itu, katamu,
“Aku cacat dan penuh luka”
Lihatlah, sayang
Aku pun penuh luka
Babak belur dan pincang

Malam itu, yang tak kau lihat
Adalah pancaran bulan sabit di biji matamu
Tak biasanya seperti itu
Jernih, bagai samudera
Menyucikan
Aku
Yang cacat dan penuh luka

Malam itu, kita menjadi satu
Menemukan muara
Pulang dan kembali
Kau menyucikanku
Aku menyucikanmu
Kita pulang ke rumah

Mercusuar

Apabila aku pergi, dari dermaga itu aku akan berangkat. Pada malam ketika mercusuar itu menyala dan pelaut yang karam telah ditemukan, aku akan menyusuri pasir dan berdiri diujung mulut tebing. Dari sinarnya yang menyala-nyala, mercusuar itu menghapus dosaku. Seakan dia tau, bahwa aku akan kembali ke rumah. Aku berdiri dan menghadapi malam. Ombak yang menghantam tubuh karang ikut membasahi seluruh tubuhku. Malam ini aku akan disucikan.

Dari pada rohnya, terjadi berkat dalam rupa kesempatan. Bagiku, pada malam ini, untuk dapat bertemu dengan pelaut karam yang telah ditemukan, dan kembali pulang ke rumah. Dunia jadi saksi atas segala penderitaan dan dosaku. Seperti binatang aku berburu, berlari dan berpasrah, mencakar hari berusaha merobek, agar esok datang dalam rupa malam. Ganti pagi aku mengais, malam tiba aku menangis. Biar di ujung tebing ini aku bersujud dan mengutuk hari dimana aku dilahirkan! Karena apabila aku menangis berbaring diatas pasir, tak juga ku dapati nyala sinar dari mercusuar.

Apabila aku berteriak, lupakan aku. Tinggalkan aku diujung tebing ini dan jangan hiraukan lengkinganku. Karena sudah saatnya bagiku untuk pulang ke rumah. Jiwaku rindu, namun tubuhku meragu. Maka lekatkanlah aku dengan malam.

Dari tempat ini aku merasakan angin menyetubuhi badanku yang pasrah lalu pergi. Dari atas kepalaku menusuk sinar dari mercusuar, mengantarkan mataku pada kapal yang telah lama karam. Sang pelaut melambaikan tangan begitu kecil di tengan laut. Aku merasakan hidupku, seluruh diriku terulang kembali di belakang kepalaku. Seketika juga seluruh ingatanku keluar, berserakan dan berantakan. Aku ingin mengingat, namun ingatanku terlalu banyak. Aku ingin melihat warna kacamata ibuku, namun yang terus terulang adalah sinar-sinar yang tidak aku inginkan. Aku ingin mengingat rasa roti coklat dan blueberry, namun yang terus datang adalah kenangan yang tidak aku inginkan. Bagaimana mungkin aku dapat melewati malam ini. Aku ingin melawan diriku sendiri.

Sudah semakin dekat, sedikit lagi, aku merasakannya. Sang pelaut mulai mendayung kapalnya kearahku. Mercusuar berputar sebanyak delapan puluh delapan kali. Aku tanggalkan seluruh diriku. Aku telanjang. Terang benderang cahaya datang dari langit. Memancarkan kasih dan restu untuk ku pulang ke rumah. Aku menengadah, aku terheran. Bersamaan dengan jatuhnya air mataku, air laut naik melampaui cahaya mercusuar. Aku memenuhi seisi dunia. Cahaya datang perlahan kepadaku. Memberkatiku dan menyucikanku. Aku disembuhkan, aku ditahirkan. Seluruh dosaku terpampang nyata di depan kepalaku, dihadapkannya padaku kutukan dalam rupa pilihan. Untuk pulang ke rumah atau mengembara di daratan yang kini telah menjadi lautan. Sampai sang pelaut telah tiba di pelipis mataku.

Tangannya terbentang di depanku. Kepalanya dianggukkan dan dalam bibirnya tersimpan senyuman. Sudah karam kini pulang, cahaya mercusuar, tanda pengasihan. Hatiku yang remuk dan redam diangkat dan aku diberkati dalam rupa kesempatan. Dalam diriku terjadi tsunami, seluruh air berputar dan mengamuk karena aku tidak bisa berbahasa. Perasaan tak lagi terbaca, aku melebihi diriku sendiri. Tak terperikan, namun di lubuknya terbenam kasih dan kerinduan.

Ku sambut tangannya dan aku mengambil langkah kedalam kapal. Mercusuar menyalakan sinarnya yang paling terang, mengantar kapalku menembus segala ruang. Aku kembali ke rumah. Telanjang aku dan disucikan aku. Dikutuk aku dalam rupa pilihan. Diberkati aku dalam rupa kesempatan. Dosaku tak terperi, tubuhku tak bersudi. Namun aku dikasihani, dikasihi dan dibuat tahir. Aku menjadi satu dengan angin, aku menjadi satu dengan air. Meledak aku, tersebar ke seluruh penjuru. Dari serpihanku yang menyala-nyala, aku memberkati dalam rupa ketiadaan. Aku memenuhi seisi dunia.

Malam ini aku telah disucikan. Malam ini aku kembali ke rumah.

 

Jakarta, 15 Mei 2019.