4

Ketika itu, Sang Cakrawala menyapa dia dan membuka jendelanya.
Sang Cakrawala berkata – kata di tengah hembusan angin padang,
“Ayo, lekas!” sembari memberikan sinarnya.

Sang Pria tidak dapat menahan segala kekagumannya akan semua hembusan angin padang yang menyerukan keagungan sahabatnya, terang buana menggelitik bulu romanya, menghaluskan pandangannya akan masa depan yang tak nyata.

“Aku ingin tinggal saja.” jawabnya seraya menutup kembali jendelanya.

Sang Cakrawala merasa sedih, ajakannya ditolak. Namun dia tidak ingin menyerah, karena dia tau jika dia menyerah, maka sahabat terkasihnya itu tidak akan dapat menyaksikan keajaiban yang mungkin tidak akan dimengerti oleh lobus kaum manusia.

Dia mengerti bahwa manusia itu malu – malu, malu jika hidup tanpa nilai, malu jika hidup tanpa harga diri, malu jika dianggap bodoh, malu jika hidup berbeda, malu jika hidup menurut kata hatinya sendiri. Maka manusia tidak akan pernah percaya dengan apa yang tidak mereka lihat di depan bola matanya sendiri, karena jika mereka melakukan itu, mereka akan jadi berbeda, dan jika mereka berbeda, mereka akan dianggap bodoh, ketika mereka sudah dianggap bodoh, mereka akan hidup tanpa harga diri, ketika harga diri telah tiada, hidup menjadi tak bernilai, tak berharga, maka kewarasan pun akan hilang ditelan detik yang tidak tahu menahu.

Namun Sang Cakrawala bijak. Dia mengerti bahwa kasih akan menciptakan kerinduan untuk menjadi bahagia, dan mengedepankan apa yang menjadi kebahagiaan dari sang terkasih itu sendiri. Maka dia mengerti bahwa kasih seorang sahabat yang sejati lebih berharga dari sesama darah. Maka itu di dalam hatinya yang terdalam dia memahami sebagaimana mestinya bahwa keinginan terbesar di dalam hidup sahabatnya itu adalah untuk menjadi bahagia.

Maka dengan segenap kekuatannya, ditariknya sang pria keluar jendelanya dan di lemparkannya sang pria dari lembah tertinggi. Suara teriakkan segera membahana di seluruh penjuru padang. Cahaya kelabu mengabadikan setiap momen yang tereka oleh biji mata berwarna pelangi. Cahaya kelabu bercampur indah, semua warna kesukaannya ada disitu. Bercampur menjadi satu keajaiban yang menusuk ke lubuk hati yang terdalam. Semua cahaya tertangkap begitu nyata, sentuhan jingga menyanyikan nada sendu, orange, hitam, merah muda dan susu, “Ah, seperti itulah warna – warna di mimpiku.”
Semuanya itu bercampur menjadi satu, dan ketika semuanya sudah menusuk sang pria di lubuk hatinya yang paling dalam, disitulah terjadi momen keajaiban hidup dimana seorang manusia akan kehabisan kata – kata, dan tidak ada bahasa di hidup ini yang dapat menjelaskan apa yang terjadi di dalam batin dan roh terdalam seorang anak manusia. Gejolak keindahan menyanyikan semua mimpi yang dalam waktu singkat sempat menjadi kenyataan.

Dengan diiringi suara angin padang, sang pria mendaratkan kedua kakinya di rerumputan. Kemudian duduk sambil menyeka keringatnya. Tidak ada satu katapun yang keluar dari ucap seorang bodoh tak berharga diri itu. Sang pria tetap berdiam, karena dia tau siapa dirinya yang sebenarnya. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, di dalam bola mata pelanginya, telah direkamnya dengan amat sangat baik segala keajaiban hidupnya. Maka badai apapun yang akan menyerangnya, dia tahu dimana ujung pelangi hidupnya bermuara.

Maka berbaringlah sang pria di rerumputan nan hijau itu, dan dari kejauhan Sang Cakrawala menyaksikan dengan penuh, kebahagiaan. Bersamaan dengan berhembusnya angin padang, sang pria membisikkan mantra keajaiban yang membahagiakan umat manusia, “Terima kasih, Sahabat.”

 

 

 

-yoirida.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s