15

Di saat-saat tertentu,
hanya ada beberapa titik kehidupan yang terbuka dengan cahaya,
memberikan sedikit waktu kepada warna untuk mengecap kebahagiaannya.

 

Sinar-sinar tak kasat mata datang merasuk menebangi nirmala.
Secangkir kopi terlalu panas membakar lidah dikala senja.
Julia tampak sedih dengan keadaan diluar sana.
Suara cangkir berdenting terngiang di telinga Jodi yang sedang jatuh cinta.

Sinar-sinar cahaya masuk menembus kaca Kedai Delia.
Lagi-lagi terdengar suara kopi tertuang bercinta dengan gelasnya.
Bel berdenting seraya pintu kedai terbuka.
Dinginnya perasaan tertuang dalam sepucuk kertas.

Jika hati mati, apakah aku masih dapat hidup?
Jika malam hilang, apakah pagi masih dapat mencinta?
Ditengah suasana remang, ku berdiam merindukan senja.
Ku tak ingin pagi, ku tak ingin malam.

Kerinduan akan alam semesta menimbulkan sebuah pertanyaan nelangsa.
Apakah seluruh kehidupan di kedai ini sudah pernah terjadi sebelumnya?
Ataukah…
Memang jalan kita sudah diatur untuk bertemu di Kedai Delia?

 

“Pertanyaan bodoh macem itu gaada gunanya dipikirin.”
“Berisik!”
“Biarin aja.”
“Gausah gila.”
“Bego.”
“Gapeduli!”

 

Ruangan ini semakin dingin ketika cahaya bulan mulai datang menyapa.
Anak-anak di taman seberang jalan sudah masuk ke rumah mereka.
Bersamaan dengan turunnya salju yang mengingatkan aku padanya,
satu persatu tubuh mulai keluar membayar bill ke meja kasir Kedai Delia.

Bolehkah manusia menuliskan apa saja yang ada di dalam benaknya?
Jika memang benar ada sebuah cinta yang
tertuang ke dasar paling dalam gelas kopi ini,
terbaur dalam gula yang menyatu dengan kopi hitam,
terbang bersama aroma Kopi Delia yang menyengat,
tersembunyi dibalik nada-nada lagu blues yang hangat,

mungkinkah ku dapat menemukan dia yang
tersembunyi di setiap sudut ruang kehidupan,
terbaring dalam setiap imajinasi yang kubangun tentang cinta,
tertuang wajahnya dalam bentuk nada dan resapan?

Maka seraya ku serup tetesan terakhir dari Kopi Americano dengan gula ini,
biarkan aku menutup mata sejenak,
dan mengingat keberadaanku di kedai ini untuk sebentar saja.

 

Siapa tau aku dapat mengingat wajahnya.

 

“Ayo Sri, pulang. Sudah mau tutup kedainya.”

“Eh, iya Di. Boleh minta billnya?

 

 

10/8/16

yoirida.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s