Renungan

Kidung hati seakan kembali menyanyikan lagu-lagu bernama

Ketika ku kembali mendengar bibirmu bersabda

Membisikkan kasih dan rahasia samudera

Menutup sebagian balut-balut biru nestapa

Elegi kepergianmu seakan mengisyaratkan

Bahwa manusia kerap haus akan kebebasan

Lantaran terkekang oleh beban nafas sampai tutup tahun

Dipermainkanlah waktu oleh jiwa rohani dan jiwa badan

Terus aku berlari sampai ke barat

Tiba-tiba terkapar aku di sebuah savanna beranting hitam pekat

Dia berbisik “Apa yang dicari takkan datang, namun apa yang dilewatkan akan kembali.”

Ku bertanya pada pasir percuma

Meludah dusta dan keraguan hanyalah sebagian kecil dari panggung nasib manusia

Lalu apa inti dari semua bahasa ini?

Hanya untuk membawa diri berjalan-jalan

Kembali menulis saat saraf sedang hilang

Dan menghipnotis jiwa dengan hati yang berbicara

Hanya untuk membawa tangan ini bergerak-gerak

Agar tidak mati dia ditelan dosa dan dioksida

Agar tetap hidup nama jari dan hatinya

Agar tetap bisa bicara, dia yang tidak bisa bicara.

Lalu apa pentingnya keberadaan sebuah ujung?

Sepertinya.. tidak ada.

Hanya agar Kidung yang berelegi ini dapat tercipta,

sembari tubuh tengkurap, jari menggeliat, pikiran mati sejenak, hati menari keparat, dan ragaku hilang sejenak,

ditelan lautan bahasa yang hanya bisa berjalan,

jika ada dan bersama, di dalam kalbuku.

 

 

9/12/16

-yoirida.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s