Malam

Hiruk pikuk malam itu masih berbising di telinganya. Memenuhi isi kepalanya yang tidak pernah beristirahat. Sama seperti dunia ini, dirinya pun dipenuhi banyak rahasia. Terkadang, tak ada satu orangpun yang bisa menebak isi hati serta pikirannya. Tidak mengejutkan, karena diapun tidak mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Di pinggir jembatan itu, dia berdiri seperti biasa. Angin berbisik menyibak rambut hitamnya yang sudah sepinggang. Jaket kulit hitam itu mungkin melindungi kulitnya dari dinginnya malam, tapi tidak hatinya.

Coba perhatikan dirinya dengan seksama. Dia pikir rokok yang dia sebat itu dapat menghangatkan jiwanya? Mungkin iya. Tapi mungkin saja tidak. Malam-malam sebelumnya sudah cukup menjadi bukti, bukan? Bahwa dia hanyalah seonggok daging yang kosong. Kekosongan dirinya sudah menggerogoti kehidupannya. Itulah mengapa dia selalu berdiri di pinggir jembatan itu. Ya, tidak sepenuhnya, namun itu adalah salah satu alasan.

Mau berkomentar? Silahkan. Saya tetap pada teori saya.

Mungkin dia sudah mulai gila, karena tidak ada lagi yang dapat dipetik daripada dirinya. Dia menyadari itu. Dia merasakan bahwa akar-akarnya sudah mulai digerogoti hama dan daun-daunnya sudah mulai berguguran. Sinar matahari tidak pernah lagi menyinari pertumbuhannya. Dia menyadari, bahwa sebentar lagi dia akan bersatu dengan malam.

Dia mulai menyerupai tengkorak. Tulang pipinya terlihat jelas bersembunyi dibalik kulit wajahnya yang pucat, celananya sudah kelonggaran dan kantong matanya hitam dan dalam. Tatapan matanya binar dan hening. Kosong dan tidak bicara. Seakan-akan rohnya tak mampu lagi berbahasa.

Dia membusuk. Kehidupannya tidak lagi sama seperti dulu. Dagingnya, rohnya dan sanubarinya, semuanya sudah bersatu dengan malam.

Paksalah dia, agar dia turun dari jembatan penyebrangan itu. Coba hampiri dia, matikan rokoknya, tatap matanya dan eja hidupnya. Sayangi dan kasihani dia. Cari tahu dimana rohnya berada. Aku yakin rohnya tersembunyi di suatu tempat ditengah malam yang berat ini. Tempatkan roh itu diantara kedua telapak tangannya, kedalam bibirnya dan kedalam biji matanya. Lalu, satukan kedua telapak tangannya dalam posisi berdoa, dan berdoalah untuknya. Biarlah semesta mencari dia, karena dia sudah hilang sejak kali pertama dia naik ke jembatan ini.

Kamu harus percaya, untuk dia.

Setelahnya, beritahukan kepadanya segala rahasia semesta yang layak untuk diketahuinya. Akan cinta, harapan dan malam. Bahwa apapun yang terjadi di dalam hidupnya, malam masih mau menjadi tangga baginya untuk turun dari jembatan itu. Lalu kau peluk dia erat-erat, jangan biarkan dia terselip dari sela-sela jarimu dan bawa dia terjun sampai kedua telapak kakinya menyentuh bumi.

Kamu harus hidup, untuk dia.

Dia harus hidup, karena tidak lama lagi, matahari akan segera tampak di ujung telapak tangannya.

———-

Hiruk pikuk malam itu masih berbising di telinganya. Memenuhi isi kepalanya yang tidak pernah beristirahat. Sama seperti dunia ini, dirinya pun dipenuhi banyak rahasia. Terkadang, tak ada satu orangpun yang bisa menebak isi hati dan pikirannya. Tidak mengejutkan, karena diapun tidak mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Dia sudah tidak kuat lagi. Dia berharap dia punya sayap.

Mungkin aku mau terbang sekarang.”

Jakarta, 5 Januari 2018.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s