Mampus!

Namun, hidup memang tidak pernah mudah.

Perasaan dan adaptasi omong kosong yang harus dilalui, seolah-olah harus menerima kenyataan dan harus membiasakan hidup, dengan semua kesiasiaan dan rahasianya, tanpa seseorang yang sebelumnya sudah ada dalam beragam momentum kehidupan.

Mengapa manusia harus selalu berpura-pura? Berpura-pura kita bisa hidup tanpa seseorang, berpura-pura kita sudah baik-baik saja semenjak kepergiannya, karena kalau kita tidak baik-baik saja, maka kita akan dipertanyakan.

“Apakah kamu baik-baik saja? Mengapa kamu tidak baik-baik saja? Ini sudah cukup lama sejak kejadian itu terjadi? Mengapa kamu masih tidak baik-baik saja?”

“Apa kamu perlu dibawa ke dokter jiwa?”

Setelahnya, mengubur diri rapat-rapat. Mengunci diri dalam realita yang berpura-pura.

Sebuah perenungan muncul ketika kamu ada, dan mungkin menemani, diri yang waktu itu sedang berduka. Kamu ada dalam ketiadaanmu. Atau mungkin diri yang terlalu membesarkan belas kasihanmu, yang bukan apa-apa, sebagai sebuah ada yang nyata. Kamu nampak ada, namun kamu tidak ada. Ketulusan (kebodohan) menuntun diri untuk kembali percaya bahwa perasaan itu harus diperjuangkan. Bagaimana diri tidak boleh menyerah akan kamu dan akan perasaan. Seakan ada keinginan semu, secara tidak sadar, ingin kamu menjadi percaya akan hal-hal yang diri percayai tentang kamu. Bagaimana kamu jauh lebih baik dari apa yang kamu pikir kamu adalah. Bagaimana diri menaruh harapan dan keyakinan akan kamu sebagai seorang manusia yang utuh, bercacat namun indah. Besarnya kasih dibalut pelan-pelan dalam air mata dan perasaan yang tidak pernah, dan tidak akan pernah, diucapkan, kepada kamu, yang tidak tahu menahu, cacat dan terkadang jahat, namun baik dan apa adanya. Tidak ada alasan untuk menaruh kasih ini kedalammu. Jika memang pada saat itu harus seperti itu, maka terjadilah.

Tarik nafas.

Semakin waktu berjalan, semakin patah dan hancur di tengah jalan. Bukan hanya soal hati namun hidup seakan begitu jahat kepada manusia yang merasa tidak tahu-menahu.

Memangnya kita ini siapa? Sampai-sampai hidup menaruh beban yang begitu berat ini di pundak? Memangnya kita sanggup? Memangnya hidup pernah bertanya?

“Hai iya kamu sanggup kan ya saya kasih ini?”

“Ah iya kamu mah sanggup saya tahu kamu kuat maka sudah ya nih coba dulu dibawa beberapa waktu, sanggup kok. Nanti kita lihat ya hasilnya beberapa bulan lagi. Pasti sanggup deh. Pasti jadi lebih kuat dan terbentuk?”

Somplak.

Pernah ada konsensus seperti itu? Tidak.

Monolog kehidupan kepada sang penonton yang hanya bengong, tutup mulut dan hilang dalam sekejap. Tak ada kesempatan untuk memberi jawaban. Kesadaran hidup berlalu dalam detik yang lebih cepat dari hitungan detik manusia (jangan-jangan dalam hal waktupun hidup berani-beraninya bermain curang? Tidak konsensus lagi? Awas saja.)

Gemar manusia berujar; bagaimana waktu adalah permainan menjebak. Di dalamnya, kita tenggelam. Mencoba meraih permukaan namun cahaya terlalu jauh. Belum pernah sampai. Ditelan dalamnya air yang tak ada habisnya. Gelap dan luas, tidak bisa melihat apapun. Semakin kebawah, semakin gelap, tercekik dan tanpa nafas.

Waktu berjalan begitu lambat, dengan amat cepat.

Mencoba mengisi waktu dengan distraksi dan hal-hal yang dianggap penting. Konyolnya, lubang ini tidak juga tertutupi. Merasa seakan-akan mempunyai kesedihan dan kekosongan. Tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadapnya, atau terhadap diri. Pada waktu itu, hidup begitu kejam. Jangan tanya kenapa. Karena pasti kita tidak akan bisa menjawab. Tidak ada jawaban untuk semua ini. Yang ada hanya kita dan apa yang terjadi di dalam tubuh dan jiwa kita ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s