Dua Rumah

Untuk Pepito,

Aku tahu, bahwa kau tidak akan pernah membaca surat-suratku. Semua tulisanku bukanlah apa-apa. Malam ini ku lihat kau membagikan tulisan seseorang untukmu. Baginya, kau adalah kehidupan. Betapa indah dirinya menuliskanmu. Perasaan kalian bersembunyi dibalik tinta hitam, rahasia kalian terbalut dalam apa yang tak akan pernah bisa diucapkan dengan kata-kata. Kalian berjuang untuk menjadi satu meski hanya di dalam sebuah tulisan.

Aku mengerti, Pepito, bahwa kalian berdua adalah sama– meski  hal itu juga yang menjadi alasan terbelenggunya kalian di dua ujung jurang yang berbeda. Begitu jauh jarak jurang itu, pun kalian berusaha memanjangkan tangan untuk meraih, kalian tidak akan pernah bisa menyentuh ujung jari satu sama lain. Pilihannya adalah untuk pergi meninggalkan jurang itu, jatuh ke dalamnya, atau duduk dan membangun rumah di ujung jurang masing-masing, untuk hidup dan menikmati satu sama lain dari kejauhan.

Mungkin kau dan dirinya memilih untuk membangun rumah itu, Pepito. Kalian bangun pagi hari dan membuka jendela, melihat satu sama lain tanpa ada kata yang terucap. Kalian meninggalkan segalanya; kehidupan kalian sebelum ujung jurang itu, hanya untuk menghabiskan hidup dengan menjadi ada bagi satu sama lain. Ternyata ada dan bersatu adalah hal yang begitu berbeda. Tulisannya bagimu malam itu bagaikan kidung yang menenangkan hatimu. Rasanya, aku tidak akan pernah bisa membuatmu merasa seperti itu, Pepito. Mungkin aku tidak akan bisa menandingi perasaanya kepadamu.

Segala apa yang ada dalam diriku, tentangmu, bersembunyi menjadi kata, terbelenggu menjadi bahasa. Yang tidak kau ketahui, Pepito, adalah bahasa-bahasaku yang berjalan ke depan pintu rumahmu. Mengetuk dan menjadi diam, hanya untuk pulang tanpa sekalipun ada yang mendengar. Yang tidak kau ketahui, Pepito, adalah bahasa-bahasaku yang bersembunyi di balik semua tulisanku. Untukmu. Selalu begitu. Yang tidak kau ketahui, Pepito, adalah aku.

Mungkin saat ini kau sedang menikmati susu panas sembari memandang jendela kamarnya, memikirkan apa yang kira-kira sedang dia tulis untukmu. Mungkin saat ini dia sedang menulis untukmu, membayangkanmu, atau sedang tidur dan bermimpi tentangmu. Aku saat ini sedang menulis untukmu. Betapa kau begitu dikasihi, Pepito. Seandainya kami bisa mencintaimu.

 

Pepito,

Baik dia maupun aku,

Kau telah hidup selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s