Jalan, jangan lari.

Untuk Joanne,

Kita lupa, betapa sederhananya hidup ini. Hal-hal yang kita anggap penting saat ini, hal-hal yang kita kejar, ternyata sungguh tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan ketenangan diri sendiri serta hak diri untuk dapat merasa cukup. Semakin dewasa, dunia semakin berubah, begitu pula dengan diri kita. Kecepatan untuk menempuh jarak dari saat ini menuju kesana menjadi semakin kurang, kurang dan kurang. Tak pernah cukup. Bagaimana bisa aku menempuh garis itu jika kecepatan lariku hanya segini terus? Maka kita berlari. Berpikir bahwa dengan berlari, kita menjadi cukup. Yang tidak kita ketahui adalah, tidak akan ada yang pernah menjadi cukup. Bahkan menjadi cukup pun, tidak akan pernah bisa cukup.

Jika suatu hari nanti kamu bangun, dan kamu melihat bahwa di sekelilingmu, orang-orang berlomba lari menuju pelabuhan itu, berhentilah sejenak, dan lihatlah. Lihatlah ke sekelilingmu. Dari sudut pandang itulah, dari titik tepat dimana kamu berhenti, berdiri, dan membuka mata, kamu akan melihat; betapa capai dan letihnya manusia-manusia itu, bertabrakan dan bertubrukan, meracau satu sama lain, berharap menjadi yang pertama menyentuh pelabuhan. Keringat mereka bercucuran, kaki mereka berdarah, ada yang mati, ada yang habis terinjak. Ada yang tertusuk, ada yang menusuk. Ada yang menangis, ada yang mengais, ada yang menjadi gila. Mereka berjuang mencapai garis akhir, padahal pelabuhan itu hanya seujung pelipis mata mereka.

Di sepanjang jalan yang gelap, payah, berduri dan sepi menuju pelabuhan itu, muncul banyak penanda jalan yang mengatakan; apabila kita tidak melakukan ini, maka kita akan tertinggal, apabila kita tidak mencapai ini, maka kita akan gagal. Kita tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka yang dalam waktu sekian sudah mencapai jarak sekian. Maka kita berlari. Agar menjadi apa-apa. Agar tidak dianggap– menjadi– dinubuatkan gagal. Agar dapat memimpin barisan. Agar dapat menjadi yang terdepan. Agar dapat merasa cukup. Begitu panjang dan letih jalan ini. Ketika kita berlari, apa yang sebetulnya kita kejar?

Berjalanlah, Joanne. Berjalanlah dengan tenang. Bawalah kedamaian itu padamu. Dalam dirimu, teruslah menyala cahaya lilin itu. Ingatlah, pun waktu akan berakhir sebelum sampai kakimu di pelabuhan itu, semua baik-baik saja. Semua tidak apa-apa. Karena merasa cukup adalah sebuah pelabuhan dalam hidup, yang hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang berjalan dengan tenang.

Maka, berjalanlah, Joanne. Jangan lari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s