haus

aku ingin duduk dengan kamu
di pojokkan ruangan itu
yang meja kayunya kecil dan bundar
dan tepat di depan kita ada jendela kaca yang besar

disitu aku dan kamu akan bertukar rasa
semanis rasa gula yang lupa dituang kedalam cangkir teh ini
bisa juga pahit, karena tehnya pekat dan kuat
panasnya teh menghangatkan lidah yang sudah mati rasa

senda gurau formalitas nampaknya membutakan kita
dari apa yang ada dibalik biji mata kita
dengan setiap tegukkan teh panas ini
aku menelan kehidupanmu masuk kedalamku
dan aku akan menatapmu lebih dalam
jauh melebihi biji matamu

aku bercermin pada genangan air teh
yang tumpah ketika biji mata kita tak sengaja bersapaan
sama seperti genangan air hujan
semua genangan menampar angan dengan kebenaran
di genangan air teh ini aku melihat diriku yang gusar,
sedang meminta dengan doa
karena kamu, aku berdoa

tak sebentar kita duduk risau,
alam semestapun akhirnya turun tangan,
(aku tidak tahu, apakah kamu juga meminta dengan doa atau tidak?)
hujan menari turun
membasahi keheningan, menyentil keadaan
kita berdua menyaksikan manusia berlarian
mencoba kabur dari tetesan hujan
seakan memang hujan adalah realita kehidupan
aku dan kamu sama-sama menikmati hujan
terutama aku, yang memandangmu lebih dalam
seakan-akan hujanku adalah seorang manusia

aku ingin meminum air hujan ini untukmu
supaya kamu tahu
bahwa meski lidahku mati rasa,
aku tetap bisa mengecap dan memahami
entah rasa manis atau pahit atau apapun itu
karena lidah ini bukan hanya
tentang apapun itu
yang membuat sebuah hujan memiliki rasa
tetapi tentang apapun itu rasamu,
kamu adalah hujan,
tetap hujan
dan akan terus begitu

kamu adalah hujan dalam alam semestaku
dan aku tinggal di dalam kamu
mencoba memahami rahasia-rahasia tak kasat mata
yang tertimbun jauh di dalam biji matamu

di dalam kamu, aku bernafas
menjalani hari-hari, menempuh, menjalani kamu
di dalamnya ada kesukaan
untuk tetap terus menjadi satu dengan keutuhanmu
menjadi bagian
melebur
bercampur

maka silahkan kamu berganti-ganti rasa,
toh aku juga sudah mati rasa
lihatlah butiran air hujan yang menempel di jendela kaca ini
atau genangan air teh yang tumpah menyetubuhi bumi
dan rasakan betapa nyamannya hidup
ketika ketika duduk berdua sambil berbagi kehangatan
kulitmu menyapa senandikaku
debaran hati kita menjelajahi ucapan doa
dan jemari kita bertemu dibalik titik-titik embun

lalu lihatlah kedepan
ada aku

yang menatapmu lebih dalam
jauh melampaui biji matamu.

 

 

-yoirida.

Advertisements

maka jika kedua kaki ini dapat berjalan tanpa harus menjadi satu
dan mata ini dapat melihat walaupun dalam kegelapan
jadilah padamu, semua kebaikan
dan kekekalan
karna pada dasarnya
dirimu itu
lebih
dari apa yang kamu percayai
kamu adalah

28

beberapa hari ini saya merasa sangat sedih dan kosong
seakan akan, ada banyak kemarahan yang meletup-letup di dalam diri ini
yang memaksa untuk keluar, karena di dalam sangat panas
sedih
dan kosong
kecewa

saya memilih untuk percaya bahwa halal hukumnya bagi seorang manusia untuk jatuh sejatuh-jatuhnya ketika dirinya ditemui oleh kekecewaan
iya, kekecewaan
pelipur lara,
penipu,
penyakit
kejahatan.

kekecewaan bisa datang dari mana saja.
ketika saya melihat daun di tangkai pohon dan saya berharap agar dia tidak layu,
namun tiba-tiba dia layu.
saya ingin belok kanan, tetapi hidup membelokkan saya ke kiri.
bermusuhan dengan hidup sendiri.
jahat.

mengapa hidup begitu jahat?
tidak adil, dan mengecewakan?
dikecewakan banyak orang.
merasa belum pernah merasakan cinta, padahal sudah pernah.
saya kaum fakir.
saya miskin.
saya sangat ingin merasakan mencintai dan dicintai
dengan penuh kesungguhan, hasrat, asmara, rindu, kegilaan, dan cinta yang meledak-ledak, dari dan kepada saya, dan dia.
saya miskin akan cinta.
maka habislah saya, jika saya terus-terusan begini.
berusaha menguatkan diri sendiri, menggenggam jari-jari tangan sendiri, berkata kepada diri sendiri “raihlah tangan ini, dan bertahanlah.”
tetapi hidup sendiri melawan dan berpihak pada kekuatan yang bukan saya
maka saya secara resmi sendiri
betul-betul sendiri
karena saya sudah tidak berkuasa atas hidup saya sendiri
saya hanyalah seonggok daging yang terbuang ke semesta aneh ini untuk apa juga saya tidak tahu
oh tolong, berikan cinta saya kepada saya.

benarkah nasib semua orang memang sudah ditentukan dari awal?
jika memang begitu, benarkan setiap pilihan manusia tidak mengarah kepada kejutan yang belum direncakan sebelumnya?
belum ada antisipasi?
ataukah sebetulnya dari setiap calon pilihan yang akan diambil manusia, sudah tersedia masa depan masing-masing untuk setiap calon pilihan yang akan diambil?

anggaplah dugaan pertama benar, maka apakah alam semesta sekurang persiapan itu, dalam perpanjangan langkah kita sebagai manusia di semesta aneh ini? atau alam semesta memang tidak peduli saja dengan kita karena ada manusia lain yang lebih baik dan lebih penting maka dialah yang masa depannya dipersiapkan dengan baik dan indah. ataukah, memang kita dibiarkan sendiri?

anggaplah dugaan kedua benar, apakah itu berarti setiap jalan kita sudah terlihat setiap probabilitas dari setiap pilihannya? akan mengarah kemana jalan itu? akan menjadi apa kita setelah mengambil pilihan itu? sudah?

jika sudah, maka mengapa semesta membiarkan manusia mengambil pilihan-pilihan salah yang menunutun mereka kepada jurang maut? mengapa kita tidak dicegah? mengapa tidak ada bala bantuan?
jika sudah tertulis setiap perpanjangan dari semua calon pilihan manusia, yang bisa memengaruhi seluruh skenario hidupnya sampai ia mati nanti, mengapa dibiarkan memilih pilihan yang tidak memberuntungkannya? tidak tahukah semesta bahwa hatinya sedih? bahwa hatinya kecewa?
hatinya berteriak,
“mengapa harus saya?”
“mengapa ini terjadi?”
“kuharap ini semua segera berhenti,” “mengapa aku dibiarkan seorang diri?”
“tidak ada yang mengasihiku,”
“aku sedih,”
“aku kecewa,”
“aku kesepian,”
“aku sendiri,”
“aku hampa,”
“aku kosong,”
“aku habis,”
“aku bukan apa-apa.”

lalu disini pertanyaannya, siapakah yang sebenarnya mengambil pilihan? manusia atau semesta?

salahkah saya, ketika saya menuangkan isi-isi dari perasaan ini?
bahkan ini belum apa-apa, belum apa-apa.
berharap menjadi tidak apa-apa, tidak apa-apa.

 

pada akhirnya, semua goresan ini hanyalah buah dari kesedihan dan kekosongan.
merasa bersalah,
dan meminta maaf kepada semesta.
manusia memang sukar untuk tidak meminta maaf karena berkata jujur atas perasaannya sendiri.

27

Salahkah saya, jika saya menuangkan isi-isi dari perasaan ini?
Bahkan ini belum apa-apa, belum apa-apa.
Berharap menjadi tidak apa-apa, tidak apa-apa.

Perasaan manusia memang tidak bisa didiktekan, harus begini harus begitu. Maklum, namanya juga manusia.
Kita merasa, dan kita merasa.
Bahkan disaat saya sudah tidak bisa merasakan apapun lagi, saya tau itulah perasaan saya.

Rasa itu ada di dalam titik sanubari ini.
Teremuk dan terplintirkan, rasa nyeri di dada dan ulu hati, ketika menahan air mata.
Tarikan nafas yang mulai tidak karuan, menahan suara agak tidak keluar dan terdengar, mencoba menstabilkan tarikan nafas namun terbatuk, bibir bergetar bersentuhan atas bawah, air mata turun dan kita tetap tidak bersuara.

Rasa itu ada di dalam.
Di setiap aliran darah dan denyut nadi, di setiap tatapan mata ketika saya melihat engkau, masih sama seperti hari-hari itu, di setiap kali saya menutup mata dan mengenang apa yang masih bisa dikenang, di setiap kebahagiaan yang muncul, yang sudah lama sekali dirindukan pada akhirnya muncul juga meski tahu ini semua hanyalah sementara,
Di setiap kerinduan sukma yang membara, membakar saya dengan dirimu yang tidak disini, di setiap tarikan nafas yang berahasiakan doa dari manusia yang tidak layak, di setiap kekecewaan saya akan kehidupan dan ketidakadilannya, di setiap rahasia kehidupan yang menampar, di setiap kesakitan yang meremas-remas kebahagiaan hati, di setiap ada… di setiap ada…

Saya mengenal cinta
Saya mencintai
Saya menginginkan cinta
Tidak ada hal yang lebih berharga di dalam kehidupan ini
Selain cinta
Cinta
Cinta

Maka tolong kirimkanlah cinta pada saya,
Sosok cinta itu, untuk ada dan menemani, mencintai, hari-hari, seakan hanya ada satu hari, untuk selalu bersama dan saling mencintai. Sampai mati. Sampai lagi. Sampai cinta nanti.

 

26/8/17

-yoirida.

a short letter

we are never alone.
the sea is our friend, the sand lives around us.
we are never alone.
we have each other, you, me, and the universe.

beneath this tree, I will whisper to you a secret.
a secret that is told a very long time ago.
some people believe this secret has become a legend, a fairy tale.

this secret is very precious, but I shall tell you, for you are the very best friend of mine.

so please, bear with me, just hang on a little.
because I have a feeling that this life will not be easy.
as easy as we swing beneath this tree, feeling the smell of the sea, laughing, breathing, living.

we will be happy, but we will go through sorrows too.
but believe me, as we swing beneath this tree.
what I am about to tell you is true, pure honesty.

we swing, as we watch two leaves falling from the tree.
dying, but trying.
but we keep swinging… just keep swinging.

believe me, take my hand, and listen to this sweet, sweet words, my friend.

we are never alone.
we are always together, have been, and will always be.

it is a secret.
because I do not think you know.
and I am afraid you will forget.
but we are never alone.
and as we swing beneath this tree,
the sea is our witness,
i hold your hand, and I say,

we are never alone.

 

31/8/17

-yoirida.

Akan Mimpi

Setiap aku memejamkan mata ini
Aku tenggelam kedalam dunia mimpi
Disana… banyak warna-warna
Yang samar-samar, namun jelas

Terpampanglah di dunia itu
Semua keajaiban hati yang dikandung oleh alam
Buah cinta semesta dengan manusia

Aku berjalan-jalan..
Selalu berjalan-jalan…
Dan setiap aku melihat kebelakang
Aku bisa melihat jejak-jejak kakiku tertinggal di lautan pasir itu
Ah! Aku senang
Aku berteriak

Aku jatuh cinta pada pasir
Aku juga jatuh cinta
Kepada segala warna dan bentuk yang dilukis dunia ini
Hijau, biru, coklat, putih, abu-abu
Diriku yang berwarna-warni ini
Menjadi terang di dalamnya
Karena mengeluarkan sinar-sinar seperti aurora
Tidak kekal, namun berharga

Maka aku berlari
Iya, berlari!
Kencang
Lalu aku berhenti dibawah bulat matahari
Aku tertegun..
Terduduk dan merenung

Di dunia ini aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun
Mungkin bahasa manusia tidak berlaku di dunia ini
Jadi aku hanya terdiam dengan kepala menunduk
Sambil memperhatikan pasir-pasir yang menempel di telapak kaki

Matahari mulai surut
Berganti dengan cahaya fatamorgana
Bayangan matahari terbenam memenuhi separuh diriku
Warnanya telah menjadi satu dengan tubuhku
Aku merasakan dalam aliran darahku
Bahasa-bahasa alam
Lagu-lagu semesta
Merasuki kulitku satu per satu
Mencoba menjadi kekal
Kedalam daging yang tak kekal

Setelah terbenamnya matahari itu
Dunia seraya gelap
Gulita
Aku takut
Tapi tidak takut
Sedetik kemudian rembulan keluar dari balik barisan pohon tinggi
Bulat… Seperti matahari yang tadi
Konon katanya, mereka dahulu bersahabat
Namun karena kebulatan mereka tidak bisa disatukan
Maka bulan berkamuflase
Kadang bulat, kadang sabit, kadang hilang
Meninggalkan cintanya yang pupus pada matahari dalam bulatnya yang hanya sementara

Cahaya rembulan kembali menerangi dunia ini
Memenuhinya dengan warna
Biru… Putih… Dan terang
Tenang…
Aku tenang…
Pernahkah kau merasakan tenang…?
Ketika tidak ada gerakan apapun disisi…
Hanya tubuhku yang berdiam…
Tidak ada suara…
Hanya tarikan nafas dari tubuhku yang…
Mencoba untuk bertahan hidup
Menyaksikan keindahan ini dengan mata telanjang

Menangkap kenangan dengan indera
Hanya dapat dilakukan sebisanya
Dia tidak bisa dipaksakan
Hanya sampai kepada cukup

Karena itu aku mengucapkan doa tentang syukur
Lalu berjalan lagi
Selangkah… Dua langkah…
Mengapa? Amat pelan…?

Dunia mimpi memang bersahabat
Kerap
Karena itulah aku selalu suka memejamkan mata ini
Namun katamu
Kemarin senja
Jangan terlalu jatuh cinta
Pada apa yang hanya bisa dilihat dengan mata tertutup
Awas-awas kepada yang semu
Hati-hati kepada yang tak bisa mati
Jangan sampai kamu di mimpimu itu
Ditelan warna-warna yang bersembunyi
Jangan sampai
Ketika kamu memejamkan matamu
Kamu tidak bisa
Membukanya kembali

buka,
tutup.

15/6/17

-yoirida.

26

Setiap aku membaca buku ini
Aku selalu merasa selangkah lebih dekat denganmu
Seolah olah keberadaanmu ada disini
Menemani… Hidup dan ada

Lembar demi lembar
Tersirat dalam setiap guratannya
Seolah olah
Menarik dirimu masuk kembali kedalam alam sadarku
Yang menutupi kasih dan rindu

longing for.

Engkau hidup di dalam buku ini
Dari setiap kata yang aku temui
Engkau kembali datang
Dan mengisi ruangmu di dalam kekosongan diri

Terlalu banyak kenangan
Terlalu sedikit waktu

Kasih memang tidak sampai
Namun dia tidak pernah mati
Setiap dikubur
Selalu bangkit kembali
Merayap naik ke dinding dinding kertas kuning kecoklatan
Bersembunyi dibalik tinta tinta hitam
Menghukum hidup dengan memberikan arti dan perasaan
Dari setiap makna yang diisyaratkan lewat kata

Dengan mulut yang kian terbungkam
Mata batinku menjelajahi setiap pertemuan kita
Dari padang gurun
Sampai padang rumput penuh domba
Aku terus berjalan bersama
Sang penggembala
Mencoba menemukan harta karun
Tempat dimana hatiku berada

Sampai jumpa
Di kesempatan berikutnya
Di kehidupan berikutnya
Di dunia berikutnya
Atau,
Jika ada berkat,
Di lembaran kertas berikutnya

Aku selalu percaya
Aku selalu berdoa

Namun apa daya..
Semuanya sudah tertulis.

 

Maktub.

 

Benarkah?

 

 

21/6/17

-yoirida.