Akan Mimpi

Setiap aku memejamkan mata ini
Aku tenggelam kedalam dunia mimpi
Disana… banyak warna-warna
Yang samar-samar, namun jelas

Terpampanglah di dunia itu
Semua keajaiban hati yang dikandung oleh alam
Buah cinta semesta dengan manusia

Aku berjalan-jalan..
Selalu berjalan-jalan…
Dan setiap aku melihat kebelakang
Aku bisa melihat jejak-jejak kakiku tertinggal di lautan pasir itu
Ah! Aku senang
Aku berteriak

Aku jatuh cinta pada pasir
Aku juga jatuh cinta
Kepada segala warna dan bentuk yang dilukis dunia ini
Hijau, biru, coklat, putih, abu-abu
Diriku yang berwarna-warni ini
Menjadi terang di dalamnya
Karena mengeluarkan sinar-sinar seperti aurora
Tidak kekal, namun berharga

Maka aku berlari
Iya, berlari!
Kencang
Lalu aku berhenti dibawah bulat matahari
Aku tertegun..
Terduduk dan merenung

Di dunia ini aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun
Mungkin bahasa manusia tidak berlaku di dunia ini
Jadi aku hanya terdiam dengan kepala menunduk
Sambil memperhatikan pasir-pasir yang menempel di telapak kaki

Matahari mulai surut
Berganti dengan cahaya fatamorgana
Bayangan matahari terbenam memenuhi separuh diriku
Warnanya telah menjadi satu dengan tubuhku
Aku merasakan dalam aliran darahku
Bahasa-bahasa alam
Lagu-lagu semesta
Merasuki kulitku satu per satu
Mencoba menjadi kekal
Kedalam daging yang tak kekal

Setelah terbenamnya matahari itu
Dunia seraya gelap
Gulita
Aku takut
Tapi tidak takut
Sedetik kemudian rembulan keluar dari balik barisan pohon tinggi
Bulat… Seperti matahari yang tadi
Konon katanya, mereka dahulu bersahabat
Namun karena kebulatan mereka tidak bisa disatukan
Maka bulan berkamuflase
Kadang bulat, kadang sabit, kadang hilang
Meninggalkan cintanya yang pupus pada matahari dalam bulatnya yang hanya sementara

Cahaya rembulan kembali menerangi dunia ini
Memenuhinya dengan warna
Biru… Putih… Dan terang
Tenang…
Aku tenang…
Pernahkah kau merasakan tenang…?
Ketika tidak ada gerakan apapun disisi…
Hanya tubuhku yang berdiam…
Tidak ada suara…
Hanya tarikan nafas dari tubuhku yang…
Mencoba untuk bertahan hidup
Menyaksikan keindahan ini dengan mata telanjang

Menangkap kenangan dengan indera
Hanya dapat dilakukan sebisanya
Dia tidak bisa dipaksakan
Hanya sampai kepada cukup

Karena itu aku mengucapkan doa tentang syukur
Lalu berjalan lagi
Selangkah… Dua langkah…
Mengapa? Amat pelan…?

Dunia mimpi memang bersahabat
Kerap
Karena itulah aku selalu suka memejamkan mata ini
Namun katamu
Kemarin senja
Jangan terlalu jatuh cinta
Pada apa yang hanya bisa dilihat dengan mata tertutup
Awas-awas kepada yang semu
Hati-hati kepada yang tak bisa mati
Jangan sampai kamu di mimpimu itu
Ditelan warna-warna yang bersembunyi
Jangan sampai
Ketika kamu memejamkan matamu
Kamu tidak bisa
Membukanya kembali

 

buka,
tutup.

 

 

 

15/6/17

-yoirida.

26

Setiap aku membaca buku ini
Aku selalu merasa selangkah lebih dekat denganmu
Seolah olah keberadaanmu ada disini
Menemani… Hidup dan ada

Lembar demi lembar
Tersirat dalam setiap guratannya
Seolah olah
Menarik dirimu masuk kembali kedalam alam sadarku
Yang menutupi kasih dan rindu

longing for.

Engkau hidup di dalam buku ini
Dari setiap kata yang aku temui
Engkau kembali datang
Dan mengisi ruangmu di dalam kekosongan diri

Terlalu banyak kenangan
Terlalu sedikit waktu

Kasih memang tidak sampai
Namun dia tidak pernah mati
Setiap dikubur
Selalu bangkit kembali
Merayap naik ke dinding dinding kertas kuning kecoklatan
Bersembunyi dibalik tinta tinta hitam
Menghukum hidup dengan memberikan arti dan perasaan
Dari setiap makna yang diisyaratkan lewat kata

Dengan mulut yang kian terbungkam
Mata batinku menjelajahi setiap pertemuan kita
Dari padang gurun
Sampai padang rumput penuh domba
Aku terus berjalan bersama
Sang penggembala
Mencoba menemukan harta karun
Tempat dimana hatiku berada

Sampai jumpa
Di kesempatan berikutnya
Di kehidupan berikutnya
Di dunia berikutnya
Atau,
Jika ada berkat,
Di lembaran kertas berikutnya

Aku selalu percaya
Aku selalu berdoa

Namun apa daya..
Semuanya sudah tertulis.

 

Maktub.

 

Benarkah?

 

 

21/6/17

-yoirida.

Tik…tik…tik…

Ini cerita sederhana,
dengan akhir yang bahagia.

 

Hati-hati dengan manusia yang menyimpan banyak rahasia.
Yang di dalam biji matanya ada hitam.
Bulat, utuh, nyata,
fokus dan tak bersuara.

Hati-hati dengan manusia yang menyimpan semuanya di dalam diam.
Dalam keheningan malam yang nyaman bermesraan dengan gelap.
Dalam sunyi yang mengadakan dirinya dengan diam dan rahasia.
Air di gelas ini… setengah penuh atau setengah kosong?

Tik tik tik…
Bunyi hujan diatas genting…
Airnya turun… Tidak terkira..
Cobalah tengok.. Dahan dan ranting…
Pohon dan kebun basah semua…

Di suatu siang yang dingin
Terdengar kabar dari warga di warung kopi
Katanya mereka baru saja menyaksikan berita kecelakaan di televisi warung kopi
Ketika air hujan membahasi atap jerami di warung kopi

Lembab dan basah
Rambut kepalamu ditemukan menangis semuanya
Melihat nasib sang inang
Ditemukan secara naas terkapar di pinggir hutan di tepi jalan tol itu

Becekan air melompat-lompat
Seraya polisi setempat berlari dan menutup tempat perkara
“Minggir semuanya, minggir!”
Payung-payung para penonton saling berdesakan
Berebut ingin menyaksikan panggung gratisan

Ada yang membiarkan tubuhnya basah kuyup dijilati hujan
Ada yang turun dari mobil karena dijilati rasa penasaran
Semuanya setia berdiri di belakang garis kuning
Mungkin tinggal kurang popcorn, pikir salah seorang penonton

Namun bersamaan dengan datangnya petir yang menggelegar
Ditarik keluarlah tubuhmu dari mobil yang terbalik itu
Seketika itu juga keributan berubah menjadi diam
Para penonton berlari kabur… satu persatu

Dengan tubuh berlumuran darah
Rambutmu bersatu dengan ilalang yang basah
Darahmu tersapu kedalam becekkan air hujan
Mengalir menuju selokan
Tidak ada artinya
Darahmu menjadi sampah masyarakat
Dengan tubuh berlumuran darah
Terdengar lagu diputar dari dalam mobil yang setengahnya hampir musnah

Tik tik tik…
Bunyi hujan bagai bernyanyi…
Saya dengarkan… Tidaklah jemu..
Kebun dan jalan.. Semua sunyi…
Tidak seorang berani lalu…

Polisi menduga ini perbuatan pembunuh bayaran
Entah rem mobil ini dibobol atau kejahatan ini memang sudah direncanakan
Ada yang bilang dia ditengah jalan ketemu setan
Ada yang bilang dia pasti bunuh diri
Tidak ada yang tahu pasti
Yang pasti
Tidak ada yang tahu
Bahwa inilah akibatnya
Jika menanam benih kejahatan
Kedalam hati seseorang
Yang menyimpan semuanya
Di dalam diam

Tik tik tik…
Hujan turun dalam selokan…
Tempatnya itik… Berenang-renang..
Bersenda gurau.. Menyelam-nyelam…
Karena hujan berenang-renang…

Dan beberapa hari kemudian mayat kedua ditemukan diatas genting.
Dan mayat ketiga ditemukan di dalam selokan.
Sisa-sisa barang bukti beserta anggota tubuh tersebar di pohon, kebun, dahan dan ranting hutan jalanan itu.
Maka yang bicara menjadi diam, dan yang diam, menjadi pemenang.

 

 

Dari jauh, dia memperhatikan.

Dia mendengarkan. Dia tidak pernah bosan.

 

Sebetulnya

Sebetulnya sebuah pertanyaan itu memang ada baiknya direnungkan dengan baik.

Karena sebuah perenungan jarang terlepas dari pendalaman jalan pikir akan dirinya sendiri dan segala kemungkinan yang dapat terjadi di depannya.

Sebuah Anjuran

Ada baiknya yang merasa mempunyai akal budi sehat terus melakukan hal-hal sehat dan luar biasa, selagi bisa dan selagi ada.
Supaya paling tidak ada jejak-jejak investasi baik yang terpupuk di tanah gila ini.
Ada baiknya yang merasa mempunyai kemampuan dan kesediaan terus menciptakan dan membuat hal hal baru yang bermanfaat, selagi mau dan bersedia.
Supaya paling tidak agak waras sedikit tanah goblok ini.

Kepada yang mampu bertanggung jawab sebelum berucap, yang mempunyai kepercayaan rohani yang kasih- atau pemahaman agama yang tulus- atau pemahaman spiritual yang dewasa- ataupun sebuah paham yang berbudi, yang percaya kepada umat manusia, yang ukuran kesuksesannya adalah kebaikan, yang mengasihi tanpa harus dikasihi, yang memberi tanpa harus diberi, yang mempunyai bela rasa dan hati nurani, yang ya, yang ada.

Empati.
Tanah ini tanah sakit, kasihan.
Sudah sekarat.
Miskinnya tanah gersang ini karena dipupuki oleh dengki.
Semoga suatu hari esok dapat disirami hati dan kasih, supaya baik dan semakin diberkati.

 

Bebanmu berat di pundak itu, Nak… Ayo sini, Ibu bantu angkat.

Iklan

Jam tidurku sudah berubah
Kekhawatiran ini mulai muncul ketika ketidakmampuan berubah menjadi keterpaksaan
Kebiasaan
Sebuah belenggu kehidupan
(ataukah batu loncatan kehidupan?)
Intinya,
jam tidurku sudah berubah

Tik..tok..tik..tok..tik..tok