… , Leila.

Hiruk pikuk malam itu masih berbising di telinganya. Memenuhi isi kepalanya yang tidak pernah beristirahat. Sama seperti dunia ini, dirinya pun dipenuhi banyak rahasia. Terkadang, tak ada satu orangpun yang bisa menebak isi hati serta pikirannya. Tidak mengejutkan, karena diapun tidak mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Di pinggir jembatan itu, dia berdiri seperti biasa. Angin berbisik menyibak rambut hitamnya yang sudah sepinggang. Jaket kulit hitam itu mungkin melindungi kulitnya dari dinginnya malam, tapi tidak hatinya.

Coba perhatikan dirinya dengan seksama. Dia pikir rokok yang dia sebat itu dapat menghangatkan jiwanya? Mungkin iya. Tapi mungkin saja tidak. Malam-malam sebelumnya sudah cukup menjadi bukti, bukan? Bahwa dia hanyalah seonggok daging yang kosong. Kekosongan dirinya sudah menggerogoti kehidupannya. Itulah mengapa dia selalu berdiri di pinggir jembatan itu. Ya, tidak sepenuhnya, namun itu adalah salah satu alasan.

Mau berkomentar? Silahkan. Saya tetap pada teori saya.

Gadis itu mungkin sudah mulai gila, karena tidak ada lagi yang dapat dipetik daripada dirinya. Dia menyadari itu. Dia merasakan bahwa akar-akarnya sudah mulai digerogoti hama dan daun-daunnya sudah mulai berguguran. Sinar matahari tidak pernah lagi menyinari pertumbuhannya. Dia menyadari, bahwa sebentar lagi dia akan bersatu dengan malam.

Dia mulai menyerupai tengkorak. Tulang pipinya terlihat jelas bersembunyi dibalik kulit wajahnya yang pucat, celananya sudah kelonggaran dan kantong matanya hitam dan dalam. Tatapan matanya binar dan hening. Kosong dan tidak bicara. Seakan-akan rohnya tak mampu lagi berbahasa.

Dia membusuk. Kehidupannya tidak lagi sama seperti dulu. Dagingnya, rohnya dan sanubarinya, semuanya sudah bersatu dengan malam.

Paksalah dia, agar dia turun dari jembatan penyebrangan itu. Coba hampiri dia, matikan rokoknya, tatap matanya dan eja hidupnya. Sayangi dan kasihani dia. Cari dimana rohnya berada. Aku yakin rohnya dia sembunyikan di suatu tempat ditengah malam yang berat ini. Tempatkan roh itu diantara kedua telapak tangannya, kedalam bibirnya dan kedalam biji matanya. Lalu, satukan kedua telapak tangannya dalam posisi berdoa, dan berdoalah untuknya. Biarlah semesta mencari dia, karena dia sudah hilang sejak kali pertama dia naik ke jembatan ini.

Kamu harus percaya, untuk dia.

Setelahnya, beritahukan kepadanya segala rahasia semesta yang layak untuk diketahuinya. Akan cinta, harapan dan malam. Bahwa apapun yang terjadi di dalam hidupnya, malam masih mau menjadi tangga baginya untuk turun dari jembatan itu. Lalu kau peluk dia erat-erat, jangan biarkan dia terselip dari sela-sela jarimu dan bawa dia terjun sampai kedua telapak kakinya menyentuh bumi.

Kamu harus hidup, untuk dia.

Dia harus hidup, karena tidak lama lagi, matahari akan segera tampak di ujung telapak tangannya.

———-

Hiruk pikuk malam itu masih berbising di telinganya. Memenuhi isi kepalanya yang tidak pernah beristirahat. Sama seperti dunia ini, dirinya pun dipenuhi banyak rahasia. Terkadang, tak ada satu orangpun yang bisa menebak isi hati dan pikirannya. Tidak mengejutkan, karena diapun tidak mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Dia sudah tidak kuat lagi. Dia berharap dia punya sayap.

 

Mungkin aku mau terbang sekarang.”

 

 

Jakarta, 5 Januari 2018.

Advertisements

Dimana, Leila?

malam, bukalah sukmamu.
dan lihatlah aku.
disini,
ditengah lorong ini.
nyaris mati, aku.
tak dapat berucap apapun.
sembari memakai lipstick dengan kelingking kananku,
ku hentikan nafas ini,
dan aku bertekuk hati.
terus, dan terus,
aku berkata,

“yang kuat ya… harus kuat.”

 

Bogor, 28 Desember 2017.

Sampai

Maka karena bertemu dengan malam,
ia mengerti bahwa menunggu malam adalah berkat,
dan jika harus memilih untuk tidur dalam gelap atau terang,
maka gelaplah jadi.
Tenang, damai, dan hangat.
Dibawah cahaya bulan, didapatkannya kehangatan yang lebih bersahaja daripada matahari.
Bersama malam, aku berjalan.
Dalam kamu, aku bermalam.

haus

aku ingin duduk dengan kamu
di pojokkan ruangan itu
yang meja kayunya kecil dan bundar
dan tepat di depan kita ada jendela kaca yang besar

disitu aku dan kamu akan bertukar rasa
semanis rasa gula yang lupa dituang kedalam cangkir teh ini
bisa juga pahit, karena tehnya pekat dan kuat
panasnya teh menghangatkan lidah yang sudah mati rasa

senda gurau formalitas nampaknya membutakan kita
dari apa yang ada dibalik biji mata kita
dengan setiap tegukkan teh panas ini
aku menelan kehidupanmu masuk kedalamku
dan aku akan menatapmu lebih dalam
jauh melebihi biji matamu

aku bercermin pada genangan air teh
yang tumpah ketika biji mata kita tak sengaja bersapaan
sama seperti genangan air hujan
semua genangan menampar angan dengan kebenaran
di genangan air teh ini aku melihat diriku yang gusar,
sedang meminta dengan doa
karena kamu, aku berdoa

tak sebentar kita duduk risau,
alam semestapun akhirnya turun tangan,
(aku tidak tahu, apakah kamu juga meminta dengan doa atau tidak?)
hujan menari turun
membasahi keheningan, menyentil keadaan
kita berdua menyaksikan manusia berlarian
mencoba kabur dari tetesan hujan
seakan memang hujan adalah realita kehidupan
aku dan kamu sama-sama menikmati hujan
terutama aku, yang memandangmu lebih dalam
seakan-akan hujanku adalah seorang manusia

aku ingin meminum air hujan ini untukmu
supaya kamu tahu
bahwa meski lidahku mati rasa,
aku tetap bisa mengecap dan memahami
entah rasa manis atau pahit atau apapun itu
karena lidah ini bukan hanya
tentang apapun itu
yang membuat sebuah hujan memiliki rasa
tetapi tentang apapun itu rasamu,
kamu adalah hujan,
tetap hujan
dan akan terus begitu

kamu adalah hujan dalam alam semestaku
dan aku tinggal di dalam kamu
mencoba memahami rahasia-rahasia tak kasat mata
yang tertimbun jauh di dalam biji matamu

di dalam kamu, aku bernafas
menjalani hari-hari, menempuh, menjalani kamu
di dalamnya ada kesukaan
untuk tetap terus menjadi satu dengan keutuhanmu
menjadi bagian
melebur
bercampur

maka silahkan kamu berganti-ganti rasa,
toh aku juga sudah mati rasa
lihatlah butiran air hujan yang menempel di jendela kaca ini
atau genangan air teh yang tumpah menyetubuhi bumi
dan rasakan betapa nyamannya hidup
ketika kita duduk berdua sambil berbagi kehangatan
kulitmu menyapa senandikaku
debaran hati kita menjelajahi ucapan doa
dan jemari kita bertemu dibalik titik-titik embun

lalu lihatlah kedepan
ada aku

yang menatapmu lebih dalam
jauh melampaui biji matamu.

-yoirida.

maka jika kedua kaki ini dapat berjalan tanpa harus menjadi satu
dan mata ini dapat melihat walaupun dalam kegelapan
jadilah padamu, semua kebaikan
dan kekekalan
karna pada dasarnya
dirimu itu
lebih
dari apa yang kamu percayai
kamu adalah

ssstt..

Salahkah saya, jika saya menuangkan isi-isi dari perasaan ini?
Bahkan ini belum apa-apa, belum apa-apa.
Berharap menjadi tidak apa-apa, tidak apa-apa.

Perasaan manusia memang tidak bisa didiktekan, harus begini harus begitu. Maklum, namanya juga manusia.
Kita merasa, dan kita merasa.
Bahkan disaat saya sudah tidak bisa merasakan apapun lagi, saya tau itulah perasaan saya.

Rasa itu ada di dalam titik sanubari ini.
Teremuk dan terplintirkan, rasa nyeri di dada dan ulu hati, ketika menahan air mata.
Tarikan nafas yang mulai tidak karuan, menahan suara agak tidak keluar dan terdengar, mencoba menstabilkan tarikan nafas namun terbatuk, bibir bergetar bersentuhan atas bawah, air mata turun dan kita tetap tidak bersuara.

Rasa itu ada di dalam.
Di setiap aliran darah dan denyut nadi, di setiap tatapan mata ketika saya melihat engkau, masih sama seperti hari-hari itu, di setiap kali saya menutup mata dan mengenang apa yang masih bisa dikenang, di setiap kebahagiaan yang muncul, yang sudah lama sekali dirindukan pada akhirnya muncul juga meski tahu ini semua hanyalah sementara,
Di setiap kerinduan sukma yang membara, membakar saya dengan dirimu yang tidak disini, di setiap tarikan nafas yang berahasiakan doa dari manusia yang tidak layak, di setiap kekecewaan saya akan kehidupan dan ketidakadilannya, di setiap rahasia kehidupan yang menampar, di setiap kesakitan yang meremas-remas kebahagiaan hati, di setiap ada… di setiap ada…

Saya mengenal cinta
Saya mencintai
Saya menginginkan cinta
Tidak ada hal yang lebih berharga di dalam kehidupan ini
Selain cinta
Cinta
Cinta

Maka tolong kirimkanlah cinta pada saya,
Sosok cinta itu, untuk ada dan menemani, mencintai, hari-hari, seakan hanya ada satu hari, untuk selalu bersama dan saling mencintai. Sampai mati. Sampai lagi. Sampai cinta nanti.

26/8/17

-yoirida.

a short letter

we are never alone.
the sea is our friend, the sand lives around us.
we are never alone.
we have each other, you, me, and the universe.

beneath this tree, I will whisper to you a secret.
a secret that is told a very long time ago.
some people believe this secret has become a legend, a fairy tale.

this secret is very precious, but I shall tell you, for you are the very best friend of mine.

so please, bear with me, just hang on a little.
because I have a feeling that this life will not be easy.
as easy as we swing beneath this tree, feeling the smell of the sea, laughing, breathing, living.

we will be happy, but we will go through sorrows too.
but believe me, as we swing beneath this tree.
what I am about to tell you is true, pure honesty.

we swing, as we watch two leaves falling from the tree.
dying, but trying.
but we keep swinging… just keep swinging.

believe me, take my hand, and listen to this sweet, sweet words, my friend.

we are never alone.
we are always together, have been, and will always be.

it is a secret.
because I do not think you know.
and I am afraid you will forget.
but we are never alone.
and as we swing beneath this tree,
the sea is our witness,
i hold your hand, and I say,

we are never alone.

 

31/8/17

-yoirida.