Kosmos

“And it’s hard to dance with a devil on your back,
So shake him off.”

Kita hidup
Bukan hanya di kehidupan yang ini
Ketika raga kita koyak
Dan jiwa kita lepas
Kita menari dengan kenyang
Bersama bunga, bulan dan bintang
Kalau ada orang yang pikir
Bahwa semesta hanya sekecil bumi
Berikan padanya telapak tanganmu
Letakan seisi angkasa di atasnya
Bentangkan segala dimensi dan rahasianya
Jangan biarkan dia terjebak
Antara ada dan tiada
Karena ketika nanti raganya koyak
Dan jiwanya lepas
Dia akan menari dengan kenyang
Bersama semua yang dicintainya
Baik manusia, rasa, dan segala yang dianggap tidak ada
Segala yang dirindukan
Segala yang didoakan

“It’s always darkest before the dawn.”

Maka, letakan doa ini di sela-sela jarimu
Tutup dan tiup
Biarkan doa ini terbang
Sampai ke telinga semesta, dan menjadi satu
Menunggu kamu datang

“‘Cause looking for heaven, found the devil in me
Looking for heaven, for the devil in me
Well, what the hell. I’m gonna let it happen to me!”

 

 

Dalam kosmos, kasih selalu hidup; bahkan berterbangan.

Advertisements

Hari Baru

Bulan dan matahari mulai berbisik bergantian. Ada rahasia yang ingin mereka sematkan. Kepada matahari, bulan berkata bahwa dia ingin menghidupi pagi. Kepada bulan, matahari berujar bahwa inginnya dia menghidupi malam.

Pada akhirnya bulan dan matahari memutuskan bahwa; tidak apa dunia hancur jika itu berarti mereka bisa bersatu. Dalam sebuah hari yang baru, dimana pagi dan malam menjadi satu. Tidak terpisah, tidak terlepas, melebur dalam ada dan tiada.

Segerakan

“Kamu: Pemikir sekaligus perasa yang unggul.”

Ingin lebih mengenal, agar bisa bertukar cerita. Bertukar kehidupan dan rasa.

Ingin mempelajarimu. Mengobrak abrik isi kepalamu. Memahami misteri senyapmu. Mengeja luka dan senandika mu. Bernafas mengikuti tenangmu. Lalu menemukan kekuatan yang mengejutkan.

Kita bisa cerita atau main tebak-tebakan. Bisa juga main di ranjang. Kamu bisa lihat biji mataku. Kamu bisa intip isi hidupku. Kamu bisa eja luka dan senandika ku. Kita bertukar dan berbicara melaluinya.

Supaya bisa kita menikmati waktu berdua, kita harus apa?

Aku tunggu kamu menyapa.

night prayer

the thing that keeps me wonder
always leaving traces of itself
along the road where it bleeds
among the trees where it lives

only time knows the secret
about you and the unspoken of everything
in the dark, to the night
between you and the moon, the angels sing for you

hear the voices of the holy
out of this realm
those voices enter your being like a prayer
singing you the footsteps of the gods

all those lives and all those loss
the longing for the things that end
even when they haven’t started yet
for the chances that missed
even when you haven’t hit it yet
for the love that must remain in the shadow
even when tomorrow we may be dead

for only time will hold our secrets
about the unspoken and the unspeakable things

i may not belong with the angels and the gods
but you are

i hope you will always find your way.

Mampus!

Namun, hidup memang tidak pernah mudah.

Perasaan dan adaptasi omong kosong yang harus dilalui, seolah-olah harus menerima kenyataan dan harus membiasakan hidup, dengan semua kesiasiaan dan rahasianya, tanpa seseorang yang sebelumnya sudah ada dalam beragam momentum kehidupan.

Mengapa manusia harus selalu berpura-pura? Berpura-pura kita bisa hidup tanpa seseorang, berpura-pura kita sudah baik-baik saja semenjak kepergiannya, karena kalau kita tidak baik-baik saja, maka kita akan dipertanyakan.

“Apakah kamu baik-baik saja? Mengapa kamu tidak baik-baik saja? Ini sudah cukup lama sejak kejadian itu terjadi? Mengapa kamu masih tidak baik-baik saja?”

“Apa kamu perlu dibawa ke dokter jiwa?”

Setelahnya, mengubur diri rapat-rapat. Mengunci diri dalam realita yang berpura-pura.

Sebuah perenungan muncul ketika kamu ada, dan mungkin menemani, diri yang waktu itu sedang berduka. Kamu ada dalam ketiadaanmu. Atau mungkin diri yang terlalu membesarkan belas kasihanmu, yang bukan apa-apa, sebagai sebuah ada yang nyata. Kamu nampak ada, namun kamu tidak ada. Ketulusan (kebodohan) menuntun diri untuk kembali percaya bahwa perasaan itu harus diperjuangkan. Bagaimana diri tidak boleh menyerah akan kamu dan akan perasaan. Seakan ada keinginan semu, secara tidak sadar, ingin kamu menjadi percaya akan hal-hal yang diri percayai tentang kamu. Bagaimana kamu jauh lebih baik dari apa yang kamu pikir kamu adalah. Bagaimana diri menaruh harapan dan keyakinan akan kamu sebagai seorang manusia yang utuh, bercacat namun indah. Besarnya kasih dibalut pelan-pelan dalam air mata dan perasaan yang tidak pernah, dan tidak akan pernah, diucapkan, kepada kamu, yang tidak tahu menahu, cacat dan terkadang jahat, namun baik dan apa adanya. Tidak ada alasan untuk menaruh kasih ini kedalammu. Jika memang pada saat itu harus seperti itu, maka terjadilah.

Tarik nafas.

Semakin waktu berjalan, semakin patah dan hancur di tengah jalan. Bukan hanya soal hati namun hidup seakan begitu jahat kepada manusia yang merasa tidak tahu-menahu.

Memangnya kita ini siapa? Sampai-sampai hidup menaruh beban yang begitu berat ini di pundak? Memangnya kita sanggup? Memangnya hidup pernah bertanya?

“Hai iya kamu sanggup kan ya saya kasih ini?”

“Ah iya kamu mah sanggup saya tahu kamu kuat maka sudah ya nih coba dulu dibawa beberapa waktu, sanggup kok. Nanti kita lihat ya hasilnya beberapa bulan lagi. Pasti sanggup deh. Pasti jadi lebih kuat dan terbentuk?”

Somplak.

Pernah ada konsensus seperti itu? Tidak.

Monolog kehidupan kepada sang penonton yang hanya bengong, tutup mulut dan hilang dalam sekejap. Tak ada kesempatan untuk memberi jawaban. Kesadaran hidup berlalu dalam detik yang lebih cepat dari hitungan detik manusia (jangan-jangan dalam hal waktupun hidup berani-beraninya bermain curang? Tidak konsensus lagi? Awas saja.)

Gemar manusia berujar; bagaimana waktu adalah permainan menjebak. Di dalamnya, kita tenggelam. Mencoba meraih permukaan namun cahaya terlalu jauh. Belum pernah sampai. Ditelan dalamnya air yang tak ada habisnya. Gelap dan luas, tidak bisa melihat apapun. Semakin kebawah, semakin gelap, tercekik dan tanpa nafas.

Waktu berjalan begitu lambat, dengan amat cepat.

Mencoba mengisi waktu dengan distraksi dan hal-hal yang dianggap penting. Konyolnya, lubang ini tidak juga tertutupi. Merasa seakan-akan mempunyai kesedihan dan kekosongan. Tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadapnya, atau terhadap diri. Pada waktu itu, hidup begitu kejam. Jangan tanya kenapa. Karena pasti kita tidak akan bisa menjawab. Tidak ada jawaban untuk semua ini. Yang ada hanya kita dan apa yang terjadi di dalam tubuh dan jiwa kita ini.

Hidup untuk Mati

Semoga saya bisa semakin melihat, menyadari dan sepakat jiwa raga, bahwa;

Hidup tidak sesempit orang-orang yang datang lalu pergi dan yang bukan untuk kita.

Tidak sesempit ekspektasi terlalu ngimpi yang tidak terrealisasi.

Tidak sesempit segala apapun yang memang belum dan masih harus ditunggu.

Tidak sesempit kehilangan dan kesedihan yang sedang dirasakan.

Tidak sesempit lautan dan tidak sesempit musim yang suram.

Bahwa hidup lebih dari yang kita pikir hidup adalah.

Lebih dari semua hal yang dirasa butuh atau inginkan.

Lebih dari segala peristiwa hidup yang sudah dan akan terjadi dalam hidup kita.

Lebih dari semua yang bisa kita pahami, tidak bisa kita pahami dan akan terus menjadi pertanyaan.

Lebih dari hati yang patah, air mata yang jatuh dan tubuh yang telentang.

Semoga saya bisa hidup untuk mati, bukan hidup untuk hidup.

when the world is quite

Lord, the days are hard and the world is quite.

I don’t always understand Your plans for me. Sometimes I doubt it. Sometimes I almost feel like giving up, because it’s hard, it’s tough, and I feel like I can’t do it anymore. It is out of my strength, out of my capability. But even on my darkest days, even when I don’t seem to know Your plan for me, You never left. I hope I will be stronger enough to let Your plans be done to me in my life.

Please give me the hope and strength that I need to continue my life according to Your plans for me. Please give me the hope and strength that I need to keep living, loving and never gives up even when the world is dark and quiet, even when people that I love turn their backs on me and disappoint me,  even when I feel like I don’t have any worth anymore, even when I’m wrong, even when everything is wrong, even when, even when.

Though times when I almost lose my sanity. Times when I just want to leave and never comes back. Times when I don’t know anything anymore. Times in life.

Even when the world is quiet, I hear Your voice. It’s calling me to write this. It’s calling me even when I don’t hear it.

Please always speak to me, Lord.

I am nothing without You.