25

Merenungkan kamu
Tak kan pernah ada habisnya
Semakin terekam
Semakin terjejaki
Kesan-kesan setiap guratan wajah
Mengisyaratkan bahwa kamu memang adalah manusia
Aroma tubuh yang membasuh lembut samuderaku
Membahasakan ketubuhanmu yang utuh meski tak sempurna

Kamu indah, sayang

Lihatlah
Bahasa-bahasa ini berjalan menghampirimu
Berusaha mengetuk sisi jiwamu yang terpatung
Membangkitkan sanubarimu, mengindahkan sukmamu
Kamu sempurna
Dengan semua luka-luka jejakmu
Sejarahmu terpampang nyata dihadapanku
Dibawah sinar lampu remang ditengah malam
Terbuka semua luka dan langkah masa lalumu

Semua sisi gelapmu
Semua sisi terangmu
Bawalah dirimu
Seutuhnya padaku

-yoirida.

24

banyak tintaku
yang tergores tentangmu
dari awal dahulu kala
sampai tua rambut abu-abu
jalanmu adalah jalanku
selalu baru, tetap bersatu

kau tetap disitu
tepat di tempat itu
menari-nari dengan kepala batumu
namun lucu, karena kau memang begitu

cinta cinta cinta
bernyanyi-nyanyi diatas kalbuku
menarik kalbumu dan sanubarimu
mengatakannya padamu, dari waktu ke waktu

ah… sayangku
kemarilah dan kecuplah
segala kasih, mesra dan asmara
tak lupa duka, susah dan nestapa
namun kau tetap disitu
selalu begitu

tetaplah jadi manusia
yang tidak abadi
karena jika kau berdiri disitu
ya… tepat di tempat itu
menggerutu dan merajukkan kekanak-kanakanmu
sambil menuntun, merangkul dan mendewasakanku
membangkitkan jiwa, hati dan sukmaku
aku yakin…
demi Tuhan aku yakin!
kamu memang mujizat hidupku

satu
selalu
utuh
selama-lamanya
cinta aku dan kamu
biar Tuhan yang tahu.

 

 

 

4/13/17

-yoirida.

23

terasa kecil…
sangat kecil
ketika aku mencoba untuk berbicara
kepada ruang yang berwarna beda

terasa pahit…
sangat pahit
ketika aku memaksa untuk mewarnai tembok hitam
berharap warnaku dapat menutup kegelapannya

terasa kecil..
sangat kecil
ketika aku mencoba untuk berbagi cerita
akan isi pikiran yang tak terbatas
berharap semuanya akan bisa sama seperti dirimu,

kepada dia,
yang hanya mempunyai sebuah botol kecil,
hanya menampung apa yang penting bagi realita kehidupannya
dan membuang warna – warna yang baginya tak berguna

kutahu
memang aku tahu
kucari ke ujung dunia pun
tak kan ada yang bisa sama seperti dirimu

harus kemana aku mencari
isi pikiran yang sama seperti diriku ini?
lagu yang sama seperti yang aku nyanyikan
mimpi yang sama seperti yang aku impikan
kacamata yang sama seperti yang aku gunakan
kesedihan yang sama
tawa
diri
aku
kamu

musnahkanlah semua cinta
jika memang tidak akan ada akhirnya
lelucon belaka manusia
yang memaksakan cinta agar tidak sendirian

haruskah ku berhenti mengasihi warna?
hanya agar aku dapat bersatu dengan hitam?

terasa pahit… sangat pahit
terasa kecil…
kecil..

ketika aku lupakan, cinta akan diriku sendiri.

 

 

12/6/16

-yoirida.

Syukur

Ternyata, cinta itu memang ada banyak bentuknya.

Entah cinta itu hanya diucap, dirasa, dibuktikan, diimpikan, ataupun dipendam.

Semua cinta adalah sama, namun berbeda.

Berbeda karena kita manusia, berbeda karena aku dan kamu tidaklah sama.

Namun, beruntunglah jika sebuah hati sudah menemukan salah satu hal yang bisa dicintainya, untuk diberikan seluruh alam semesta kepadanya.

Kepada mimpi, angan-angan, semua kawan, dan yang akan datang, terima kasih, karena sudah bersedia aku cintai,

mungkin kemarin, mungkin esok lagi,

atau mungkin sampai sepuluh ribu tahun lagi.




BersamaMu Bapa, ku lewati semua.

Menuju Primadona

“Bakul jamu kalau dikasih kesempatan juga bisa jadi Primadona.”

Membaca kalimat ini di Instagram salah seorang senior saya. Bagaikan sebuah renungan singkat di hari yang melelahkan (baca: kekurangan waktu untuk melakukan semua keharusan. duduk saja buang-buang waktu), jika memang berusaha keras, rendah hati, dan tetap percaya, mungkin akan diberi.

Memang tidak ada yang mudah. Kekuasaan juga memusingkan yang tidak punya kuasa (tidak, kami tidak ingin dikuasai) diputar-putar bagai komedi putar.

Ya, memang sudah seperti komedi hidup ini. Ingin berkarya saja kok dihalang-halangi. Ingin mencipta saja kok disusah-susahi.

Ternyata, seni itu memang tentang ketulusan hati, keikhlasan hati, kerendahan hati, kejujuran nurani.

Seni. Selalu berjalan seiring bernafasnya manusia. Selalu lahir dengan unik dibalik setiap kisah hidup si pemiliknya.

H-9
“Opera Primadona”
Teater Paradoks FISIP UI
27 Maret 2017
Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki

Atas nama seni dan semua pejuangnya.

Refleksi 25 Februari

19.
19 has become my favorite number since all I can remember. I like the number, 19. Since then, 19 has become something that most people call “lucky number” for me. Not because there’s any evidence that shows how 19 got me any luck, but it’s just, I like 19.
And today, I am 19 years old.

19 years old I have lived in this world, without my notice, next year I will start my 20s.

Time goes by so fast. People come and go and change. Memories come and go, replacing one another. The older the age, the simpler the celebration gets. But the older the age, deeper the thoughts that pops into my head.

So many things that I want to do, so many things that I want to achieve, I haven’t achieved, I long for, I need, I miss, all and all they make me more human.
My life is not perfect. But when I look back, I can clearly see how much Jesus loves me and how much He has blessed me with so many ways that sometimes I can’t even understand or I don’t expect. I know You have the best plan for me. I believe You already save the best in store for me. I believe You are strong enough, in my weakness, God be lifted up.

When I look back, life has treated me kindly, God has been so kind to me. He must loves me very much.

Thus, I thank you.

I thank you, my Father.

I thank you for Your love, for my parents, for my brother, for my grandparents, for my family, for my bestfriends, for my friends, for person that I haven’t met yet, for Your plan that I perhaps haven’t seen yet.

I thank you for everything.

I thank you.

 

“Kaulah ya Tuhan, surya hidupku

Asal Kau ada yang lain tak perlu

Siang dan malam, Engkau ku kenang

Di hadiratMu jiwaku tenang.”

 

 

25/02/17

-yoirida.

22

tamparan keras
hati yang berbatu
menjadi aib, bui dan abu
semakin lirih, semakin risih
membuat rintik menjadi titik

mirisnya hati menyulam hidup
dikandung ibu, menjadi aku
dunia bisu, tak bisa bertutur
membuat aku menjadi runtuh

luluh… luluh… luluh…
pudarlah titik-titik di bumi
yang mewakilkan kisah sedih dan lesu

tetap diam karena kalah pada patuh
ketika rintik-rintik menjadi abu.

 

9/3/17

-yoirida.